Meski memiliki pengalaman hidup serba kekurangan, tetap membuat Jemi Ngadiono nggak patah semangat. Untuk mencapai kesuksesan, Jemi harusbekerja serabutan dan menyisihkan penghasilannya untuk bisa sekolah hingga perguruan tinggi. Dari usahanya, kini Jemi telah menjadi seorang social entrepreneur yang mendirikan komunitas  1.000 guru. Simak pengalamannya dalam mendirikan komunitas ini, yuk!

Komunitas 1.000 guru sendiri telah tercetus saat ia duduk di bangku kuliah pada Agustus 2012. Lewat akun twitter @1000_guru,  Jemi saat itu selalu mendokumentasikan kejadian dan peristiwa terkait pendidikan yang ada di daerah pelosok atau pedalaman yang memprihatinkan sembari bekerja di perusahaan media elektronik. Tak disangka, akun Twitter @1000_guru mendapatkan respon positif dari netizen.

Antusiasme warganet ini terlihat dari jumlah followers-nya yang berhasil mencapai 30 ribu akun dalam satu tahun. Mereka juga banyak yang ingin berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukannya. Maka, karena high demand dari para followers, Jemi yang lahir pada 11 Mei 1984 di Tulang Bawang, Lampung ini mendirikan Komunitas 1.000 Guru pada November 2013. Komunitas 1000 guru ini sendiri memiliki aktivitas utama yaitu mengajak para peserta komunitas untuk  open trip (menjelajahi wilayah) terpencil yang berlangsung selama tiga hari (Jumat-Minggu).

Setelah komunitas ini resmi berdiri, Jemi pun langsung memulai kegiatannya tahun 2013 dengan open trip daerah pedalaman di Rangkasbitung, Banten. Awal memulai, hanya ada 9 peserta yang mengikuti. Namun, dari kegiatan awal inilah Jemi terus menerus mendapatkan banyak peserta untuk open trip yang berikutnya. Kini, aktivitas dari komunitas ini pun telah berevolusi dengan menjadikan pengalaman edukasi dan juga backpacker yang menarik dengan nama program TnT (Traveling and Teaching). Peserta yang ikut kegiatan open trip ini akan membantu program pendidikan sekaligus mengunjungi berbagai objek wisata di daerah setempat a la backpaker.

Perkembangan komunitas ini telah mencapai luar Jawa. Tercatat ada 38 cabang regional di 30 provinsi dengan Jakarta sebagai pusatnya. Beberapa cabang komunitas 1000 guru sendiri antara lain lain Bengkulu, Bandung, Kupang, Makassar dan Samarinda. Setiap cabang juga bisa melakukan TnT sendiri setiap bulannya ke daerah terpencil yang ada di wilayahnya. Kegiatan ini pun semakin menarik karena semua peserta akan menginap di rumah warga desa sekitar. Tujuan menginap sendiri adalah untuk menjalin ikatan emosional antara peserta dan warga setempat.

Meski kelihatan seperti mengajar sambil jalan-jalan, Komunitas 1000 guru ini memberikan program beasiswa pada guru pedalaman serta program bertajuk Hormati Gurumu. Beasiswa ini sendiri akan diberikan pada para guru pedalaman yang hanya lulus SMA atau sederajat supaya bisa meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi.

Meski telah sukses, Jemi masih ingin menciptakan pendidikan yang layak bagi anak-anak di daerah pedalaman dan membantu guru pedalaman jadi semakin sejahtera.