Reni Hayu Pratiwi (34) menghidupkan kompor kecil dan memanaskan lilin di atas wajan kecil. Di hadapannya selembar kain putih yang sudah di gambar dengan motif batik ‘kangkung setingkes’. Dengan hati-hati ia menyelupkan canting di tangan kanan nya dan meniup ujungnya perlahan.

“Biar malamnya nggak tersumbat,” jelasnya kepada Kompas.com Selasa (25/03/2014).

Reni Hayu Pratiwi, salah satu dari 30 ibu rumah tangga yang mengikuti pelatihan pembuatan batik yang di selenggarakan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Kalipuro.

Sambil tertawa, Reni bercerita kesulitannya saat memegang canting. “Awalnya kayak megang sendok, ternyata beda ya. Apalagi panas dari malam cair nya juga harus diatur agar bisa tembus di bagian kain belakang. Kalau nggak ya harus di ulang,” katanya.

Sebelum diajari melukis di atas kain, Reni menjelaskan, di hari pertama ia dan rekan-rekannya diperkenalkan dasar-dasar membatik, bahan dan juga motif-motif batik. “Menyenangkan sekali. Biasanya kan ibu-ibu yang kerjanya di rumah ngurusi rumah, suami dan anak. Ini di ajari buat kain batik,” ujarnya.

Reni mengaku akan meneruskan pelatihan ini dengan kawan-kawannya untuk membentuk kelompok usaha. “Tapi ya sepertinya butuh waktu lama. Nanti mau belajar sendiri lagi karena sudah dapat dasarnya disini,” katanya.

Sementara Buhani, pemilik Batik Srikandi mengaku senang berbagi ilmu dengan ibu-ibu rumah tangga yang mau belajar batik. “Memang susah karena untuk mengenal batik, biasanya pemula butuh waktu 3 bulan. Pelatihan ini hanya seminggu tapi kedepannya saya mempersilahkan mereka untuk melanjutkan belajar di artshop saya,” katanya.

Perempuan yang sudah 21 tahun menggeluti dunia batik ini mengaku perempuan bisa memilih menjadi pembatik karena bisa dikerjakan di rumah tanpa harus meninggalkan keluarga. “Hasilnya pun lumayan untuk tambah-tambah uang belanja. Tapi kalau di kelola secara profesional juga lebih bagus lagi hasilnya,” tuturnya.

Bukan hanya mengajari cara membatik, Buhani juga mengenalkan beberapa motif batik Banyuwangi. “Motif batik yang terkenal di Banyuwangi ya hanya Gajah Uling. Padahal masih banyak motif-motif lain seperti Kangkung Stingkes, Kopi Pecah dan Paras Gempal. Sebagai awal juga diajarkan bagaimana mendesain motif agar lebih kreatif dan mempunyai nilai jual yang lebih,” jelasnya.

Sementara itu Sulistyaning Dyah Sinta Dewi, Ketua Unit Pengelola Kegatan program nasional pemberdayaan masyarakat Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi kepada Kompas.commenjelaskan, pelatihan membatik sengaja di pilih karena batik menjadi salah satu potensi yang dimiliki Kabupaten Banyuwangi.

“Bukan hanya wisata alam dan kuliner. Batik merupakan potensi yang perlu dikembangkan. Apalagi kecamatan Kalipuro berada di jalur utara jika melintas menuju Bali,” jelasnya.

Pelatihan pembuatan batik ini, ibu-ibu rumah tangga di beri alat-alat batik dan juga dua lembar kain putih. “Satu lembar nanti akan di pakai sendiri sedangkan satu nya lagi nanti akan dipamerkan,” katanya.

Kedepannya, nanti akan di bentuk kelompok kerja di setiap desa sehingga mereka akan menularkan ke ibu-ibu di sekitarnya.

“Ada delapan desa yang ikut yaitu Desa Bulusari, Desa Telemung, Desa Kelir, Desa Pesucen, Kelurahan Klatak, Kelurahan Bulusan dan Kelurahan Ketapang. Nanti mereka akan membentuk sentra pembuatan batik di desanya sehingga sisi lain potensi Banyuwangi juga bisa diketahui. Selain itu hal ini juga bisa untuk memberdayakan perempuan terutama yang ada di desa,” pungkasnya.

 

Sumber: kontributor Banyuwangi Kompas
foto: Tempo