Bagi seorang anak, ketika mereka ditanya soal cita-cita mungkin akan menjawab dengan jawaban standar seperti dokter, pilot dan sebagainya. Begitu pula dengan Nonita Respati yang tidak menyangka bahwa sekarang ia justru mengelola sebuah brand yang ia ciptakan berkat kedekatannya dengan budaya Jawa, Purana.

Terlahir dari seorang ibu kolektor batik dan memiliki eyang seorang pemilik sebuah pabrik di Solo, membuat Nonita akrab dengan batik. Ditambah lagi dengan hobi masa kecilnya yang dihabiskan dengan menggambar busana, membaca majalah mode ibunya dan sesekali menjahit seolah menuntun jalan Nonita untuk berkreasi dengan batik.

Seiring berjalannya waktu, Nonita tumbuh dan menjauh dari dunia perancang busana. Ia justru menempuh jurusan Hubungan Internasional saat kuliah dan setelah lulus Nonita langsung terjun ke dunia jurnalistik dan menjadi penyiar radio.

Seolah berjodoh dengan dunia mode, pekerjaan Nonita membawanya bersentuhan kembali dengan mode saat ia merambah media cetak. Saat itu, pekerjaannya mengharuskannya fokus pada reportase mode, baik dalam negeri maupun mancanegara. Kesempatan untuk bekerja pada 3 majalah mode inilah yang membuat Nonita memahami seluk beluk industri mode global.

Pengalaman tersebut seolah memanggil Nonita untuk kembali menggeluti dunia desainer pakaian yang terpendam. Hingga akhirnya dengan modal nekad, Nonita mendirikan Purana pada tahun 2008 dengan memanfaatkan alat cap batik peninggalan keluarganya.

Nonita mendapatkan dukungan dari perajin yang memiliki koneksi baik dengan mendiang ibunya karena sang ibu aktif berorganisasi dan memajukan perajin lewati IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) dan KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia). Dalam mendirikan dan menjalankan Purana, Nonita berkeinginan untuk menjadikan brand miliknya itu sebagai label yang berkesinambungan dan beretika. Hal ini terlihat dari kepeduliannya untuk meminimalisir limbah industri yang bisa merusak lingkungan. Karena itulah, ia berkomitmen untuk menggunakan pewarna alami, memaksimalkan kain, dan memanfaatkan kain perca.

Nonita juga berkeinginan untuk membuat batik terlihat chic. Dengan modal pengalaman otodidak, ia mengemas batik dengan gaya modern. Di tangannya dan para penjahitnya, batik berubah menjadi busana bernuansa kekinian dengan motif dan cutting yang unik.

Karena dinilai unik, Purana menjadi daya tarik bagi pasar lokal. Pelanggannya-pun meliputi kaum selebritis dan pemerintahan seperti Maudy Koesnaedi, Wanda Hamidah hingga Mari Elka Pangestu – bahkan pasar Eropa juga mulai memberikan tawaran padanya. Awalnya, Purana hanya mempekerjakan satu orang penjahit. Kini, brand ini telah mempekerjakan 20 orang karyawan. Sukses dengan batik, Nonita tidak berdiam diri dan memutuskan untuk mengeksplorasi tenun.

Nonita mengaku bahwa brand-nya tidak berkembang sepesat brand kebanyakan. Namun begitu, Nonita merasa puas karena kesuksesannya diraih dengan tangan sendiri. Seperti contohnya, banyak label fesyen yang harus membayar untuk tampil dalam sebuah pekan mode, tapi Purana mendapatkannya secara cuma-cuma dan dipertemukan dengan sponsor.

Menurut wanita yang pernah memamerkan karyanya di Los Angeles Fashion Week 2016 ini, selain pandai berhitung, pebisnis harus sensitif menentukan kapan harus membesarkan usaha atau menahan ego. Karena ketika bisnis punya demand, maka usaha akan berkembang. Jangan sampai ego menjadi bumerang.