Hasil riset Departemen Kesehatan menyatakan, Indonesia saat ini memiliki kekurangan minimal satu kantong darah tiap tahun. Pada 2013 misalnya, kekurangan mencapai hingga 2,4 juta kantong darah. Berawal dari fakta tersebut, Leonika Sari Njoto Boedioetomo yang akrab disapa Leo ini, bersama teman-temannya tergerak membuat Reblood, sebuah startup yang menjawab kendala akan kekurangan darah tersebut  sehingga lebih banyak nyawa yang bisa diselamatkan.

Leo dan teman-temannya memiliki harapan lewat Redblood, bahwa di masa depan tak akan ada lebih banyak orang Indonesia meninggal karena persediaan kantong darah tidak tersedia. Sebelumnya, mereka mencoba untuk mencari jawaban dari kenapa tidak banyak yang mau mendonorkan darahnya secara rutin. Mereka menemukan bahwa  50% pendonor berasal dari usia produktif – berusia 17 hingga 40 tahun. Bagi para pendonor ini, untuk pergi ke unit pendonoran darah pada hari kerja hampir tak mungkin bagi mereka.

Karena itulah, Redblood aktif mempromosikan acara donor darah, sehingga orang dapat mudah menyumbangkan di mana saja – universitas, kantor, mall, dan tempat umum lainnya,  baik di hari kerja atau saat akhir pekan.

Selanjutnya, Redblood membangun aplikasi yang mengingatkan para pendonor yang sudah memiliki akun untuk  selalu menyiapkan kesehatan badan pada saat pengambilan darah. Pasalnya, ebih dari 50% dari mereka yang ingin mendonorkan darahnya ditolak, karena tak dalam kondisi fit disebabkan kurang tidur dan pola makan tak teratur.

Redblood juga mengajak penggunanya untuk having fun untuk menambah jumlah pendonor. Redblood mengonsepkan sistem poin dan reward bagi mereka yang sering mendonor. Jumlah poin yang didapatkan bisa ditukar dengan hadiah menarik.