Kalau melewati Kota Cirebon, pasti sering sekali menemui tulisan Batik Trusmi. Sebenarnya, apa sih Batik Trusmi itu?

Batik Trusmi mengacu pada batik khas Cirebon yang memiliki akar di daerah Trusmi, Kabupaten Cirebon. Batik ini memiliki ciri khas motif dan warna batik pesisir dan menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Cirebon yang telah dikenal luas ke pasar mancanegara. Kepopuleran Batik Trusmi sepertinya tidak bisa lepas dari peranan Sally Giovani, seorang wanita gigih yang memiliki semangat pantang menyerah dalam memasarkan Batik Trusmi ke luar Cirebon.

Perjuangannya dimulai saat ia dan suami memutuskan untuk menikah muda. Tidak ingin membebani orangtua dan keinginan untuk membuktikan bahwa mereka bisa mandiri, Sally memutuskan untuk membuat usaha berjualan kain kafan. Seiring berjalannya waktu, Sally menyadari bahwa berjualan kain kafan tidak memberikan hasil yang memuaskan, karena itulah ia beralih ke kain mori – bahan kain yang digunakan untuk membatik, setelah menghadiri seminar di Balikpapan.

Dari interaksinya dengan perajin batik yang menggunakan jasanya, Sally mendapatkan ilmu. Dari merekalah ia mendapatkan ilmu tentang batik khas Cirebon, proses dan motifnya. Sally-pun memberanikan diri membawa batik dari perajin ke pasar di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali. Ia pun berbagi tugas dengan suaminya, ia dapat bagian pemasaran.

Dalam memasarkan produknya ke Jakarta, Bandung, dan Surabaya, Sally tidak pernah menyerah. Motif unik dan mutu yang baik menjadi point of sales-nya. Sally mengaku, ia lebih baik menerima keluhan soal harga daripada keluhan soal kualitas. Kegigihan Sally berbalas. Akhirnya ia mendapatkan kepercayaan dari pelanggan dan pengerajin yang memercayakan produk mereka pada Sally untuk dijual kembali.

Uang dari hasil keuntungannya ia simpan untuk membuka toko fisik dengan ukuran 4 x 4 meter. Sebagai penanda, ia memasang sebuah billboard besar yang bertuliskan Batik Trusmi termurah dan terlengkap di tahun 2007.

Akibat ‘insiden’ pengakuan batik oleh Malaysia, bating mengalami booming di masyarakat. Usaha Sally-pun meningkat. Ia pun memanfaatkan momentum dan peluang itu. Apalagi, saat itu mulai ramai penjualan online, kesempatan tersebut tidak ia sia-siakan.

Kesuksesan ini membuat Sally melakukan perluasan terhadap toko miliknya. Dengan hasil yang dikumpulkan, ia membeli sebuah lahan bekas pabrik seluas 1,5 hektar di tahun 2011. Setahun kemudian, toko batik Sally dan Ibnu mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai toko batik terluas dengan pemilik termuda. Kini,  Sally memiliki 10 cabang yang tersebar di lima kota besar di Indonesia, di antaranya di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, dengan 850 karyawan tetap dan 500-an pengrajin batik. Dan untuk mimpi besarnya, Sally mengaku ingin lebih mengoptimalkan toko online dan memiliki 1 juta orang pegawai.