Berawal dari rasa bingungnya melanjutkan kuliah setelah tamat SMA, Vielga Wennida yang masih belum bisa memutuskan akhirnya menuruti masukan orangtua dan orang-orang sekitar untuk mengikuti ujian jurusan Akuntansi Universitas Indonesia. Sukses diterima, ia merasa kesulitan dan tidak cocok di bidang ini. Ia pun berjuang sekuat tenaga untuk bisa lulus dan mendapatkan gelar.

Setelah lulus, ia bekerja di berbagai bidang terutama di bidang akuntansi. Namun, rasa cocok baru menghampirinya ketika ia bekerja di divisi marketing yang ia lakoni selama tujuh tahun. Meski sibuk, Weni tidak lupa untuk mengasah hobinya menggambar, terutama menggambar bunga. Dari hobi dan penghasilan yang ia dapatkan, Weni akhirnya mengembangkan usaha bordir yang telah dimiliki sang ibu di kampungnya, Payakumbuh. Pada saat iut, usaha sang ibu tengah mengalami kelesuan karena kalah bersaing dengan usaha jahit bordir yang menggunakan bordir, bahkan sampai harus menggadaikan barang-barang berharga untuk bertahan.

Melihat ibunya yang sedang berada di titik terendah, Weni turun tangan dan memutar otak. Pada tahun 2001 ia mencari cara bagaimana agar keahlian membordir tradisional yang dimiliki anak buah ibunya bisa menghasilkan produk lain. Memanfaatkan keahliannya menggambar bunga dan kesenangannya pada kebaya encim, Weni mulai membuat kreasi motif bordir bunga untuk kebaya encim.

Dengan modal awal Rp5 juta, Weni yang masih berstatus karyawan tidak bisa maksimal dalam menjalankan bisnis bordirnya. khirnya, hasil rancangan kebaya bordirnya ia kirim ke Jakarta, untuk kemudian dijual di acara bazar. Ternyata, peminatnya cukup banyak. Mereka tertarik pada warna kebaya encim yang cerah plus bordiran bunganya yang atraktif.

Kebayanya memang memiliki keunikan. Weni berani memadukan warna-warna cerah dengan bordir bunga-bunga menawan. Hingga pada akhirnya tahun 2008 menjadi tonggak sejarah bagi berdirinya Roemah Kebaya. Weni-pun akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus berwirausaha.