Sering muncul terminologi-terminologi baru yang terkadang kita atau publik bisa mengartikannya sendiri-sendiri. Satu orang menyebut bahwa sekarang potensi ekonomi kreatif sangat besar potensinya. Atau ada juga yang menyebut bahwa CREATIVE CLASS yang akan membawa sebuah daerah/kota/negara memiliki kekuatan ekonomi yang kuat dan besar.

Tak ingin mencoba membuat argumen, tulisan ini ingin mengajak teman-teman semua yang merasa dirinya kreatif untuk mencoba sesuatu yang saya yakin akan menguntungkan kita semua. Pertanyaannya adalah : Siapa yang pantas menyebut dirinya insan kreatif? Ini pertanyaan mendasar yang menurut saya penting. Bagi saya semua orang adalah kreatif. Tak perlu person/individu yang memiliki latar belakang pendidikan kreatif atau art. Jaman telah berubah, semua orang berhak kreatif. Seorang teman yang hobi menjahit dan senang dengan benda-benda RE-USE bisa membuat sesuatu yang menarik sesuai dengan karakter dirinya. Seorang @dielamaharanie atau @vantiani siapa yang mikirin latar belakangnya. Mau dia sekolah Administrasi atau PR sejauh karyanya mentereng dan unik ya sah-sah saja.

Beberapa hari lalu saya ngobrol asik dengan @wawbaw dan @bobmerdeka tentang apa saja yang kalau disimpulkan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia kreatif. Bukankah kripik adalah produk kreatif atau sepatu bergambar khas @wawbaw adalah juga produk kreatif. Yang jelas obrolan sangat seru dan memunculkan inspirasi-inspirasi. Dan setelah asik ngobrol sana-sini saya bertanya apa latar belakang @wawbaw yang sangat visual? Dia sekolah di Fakultas Sastra. Okay never mind…

Lalu apa yang bisa kita lakukan supaya kita bisa eksis dan menjadi bagian dari kelas kreatif yang semakin dahsyat bermunculan. Tulisan ini anggap saja sebagai ajakan bagi siapapun untuk menjalani sesuatu yang potensial di era Culture of Producer; sebuah era dimana kesempatan besar bagi siapapun untuk memPRODUCE sesuatu yang unik.

Beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk membangun personal branding/branding dan kita bisa menjadi bagian Creative Class yang asik :

1. Jadilah individu yang unik adan berani mengekspresikan diri

Keluarlah dari zona mainstream karena menjadi bagian dari Creative Class memungkinkan kita untuk lebih individualistis bahkan menjadi “sedikit nyentrik”.  Identitas kreatif sangat diperlukan saat ini.

Misalnya memproduksi furniture khusus untuk anak bagi individu kreatif yang sangat suka dunia parenting atau tote bag yang bertemakan puisi atau kata-kata cantik bagi kita yang tergila-gila dengan puisi. Be yourself.

2.SHOW YOUR WORK

Menjadi brand/personal brand dan menjadi bagian Creative Class harus terbuka untuk share proses, hasil dan mungkinperjuangan yang dilakukan untuk menemukan makna yang bisa dirasakan orang lain.

Banyak hal yang bisa dishare lho; plan, sket, draft, notes, inspirasi, scrapbook, drawing, interview, photo, video sampai story. Sampaikan dengan jujur dan otentik. Think Process not Product! Orang di jaman terbuka ini suka sekali dengan behind the scene. Kesimpulannya Show Your Work tak hanya jualan produk jadi yang justru akan mengganggu privacy orang.

3. Terbuka dengan dunia lain dan terbuka untuk kolaborasi

Keterbukaan adalah cara meritokrasi baru dalam membangun reputasi brand atau personal branding. Membangun reputasi saat ini dilakukan dengan cara transparan.

Kolaborasi menjadi salah satu bentuk statement langsung bahwa kita tidak eksklusif. Tidak terkungkung dengan nilai-nilai diri dan mengakui keaneka-ragaman,

Selamat datang di dunia baru yang akan semakin dipenuhi kelas baru bernama Creative Class yang semakin menentukan kemajuan bangsa ini.

Akhirnya saya memetik kata-kata yang keren ini :

“That’s all any of us are : amateurs. We don’t live long enough to be anything else.”

– Sir Charlie Chaplin

 

Sekarang jaman “Amateur”, siapapun dari kita berhak untuk mencoba dan secara antusias berekspresi. Dengan rasa cinta pada yang kita perbuat kita akan mencoba sesuatu yang baru. Learn and Share menjadi syarat kenapa kita bisa maju.