Dalam perjalanannya, banyak bisnis yang membutuhkan rebrand. Rebrand sendiri berarti memperbarui image di mata konsumen. Baik untuk memperbaiki citra atau ingin menyegarkan kembali gambaran produkmu yang (mungkin) sudah berjalan sekian lama sehingga butuh update. Seperti contohnya Apple yang awalnya memiliki logo apel dengan unsur pelangi di dalamnya, menjadi apel polos dengan unsur metalik di tahun 1997, sekaligus menandakan kembalinya Steve Jobs ke dalam jajaran petinggi Apple. Terbukti, berkat rebranding tersebut kepopuleran Apple menanjak, seiring tutupnya tahun 90-an dan diganti dengan tahun 2000 yang memiliki tren lebih minimalis, sleek dan clean.

Apakah brand kamu tergolong brand yang butuh rebranding? Cek beberapa cirinya!

Expanding ke luar negeri: beberapa value brand dianggap tidak sesuai bila diluncurkan di luar negeri. Beberapa cara-pun dilakukan. Mulai dari penggantian nama hingga logo. Contohnya: mobil yang kita kenal sebagai Honda Jazz, ternyata memiliki nama asli Honda Fit di negara asalnya dan beberapa negara lainnya.

Repositioning: ini dilakukan untuk menarik pasar yang tadinya tidak masuk ke dalam cakupan brand. Misalnya, brand yang mengakomodir kelas B dan C ingin meraih pasar kelas A, maka repositioning harus dilakukan agar kelas A tertarik, sementara kelas B dan C yang menggunakan produknya merasa ‘derajat’-nya ikut naik.

CEO baru: pemimpin baru, pandangan baru. Inilah yang terjadi pada Apple saat Steve Jobs kembali. Rebranding yang dilakukannya berhasil menyelamatkan Apple dari kebangkrutan.

Image yang jadul: biasanya ‘diderita’ oleh brand lama. Memang, mereka memiliki pelanggan setia, tapi untuk meraih pasar yang lebih muda, mereka butuh untuk melakukan penyegaran. Hal ini dilakukan oleh Pepsi.

Memperbaiki citra: reputasi adalah segalanya bagi brand. Bagi yang terlanjur memiliki citra buruk, lebih baik segera lakukan rebranding sebelum benar-benar ditinggal pelanggan. Contohlah apa yang dilakukan McDonalds. Restoran cepat saji ini memiliki citra yang kuat sebagai makanan tidak sehat, maka mereka melakukan rebranding dengan menampilkan banyak sayuran dan mengikutsertakan salad di setiap campaign-nya.

Merger: bila dua perusahaan bergabung, dibutuhkan rebranding agar tampak apa yang berubah dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan legal.

Brand yang terlalu serupa: bila kamu dan kompetitor atau brand lain memiliki identitas sangat mirip, maka kamu harus segera melakukan rebranding. Selain untuk menghindari tuntutan hukum, hal ini akan memudahkan target market kamu supaya mereka tidak salah brand.