Aquaponik adalah teknik budidaya tanaman menggunakan air sebagai media tanam dan ikan sebagai pemasok bahan dasar hara/nutrisi bagi tanaman. Populasi tanaman organik yang dapat ditanam 10 kali lipat lebih banyak. Dengan aquaponik tanaman dapat ditanam dengan kerapatan tinggi dengan sistem terapung di atas air. Sistem ini mampu menampung hingga 10 kali lipat jumlah tanaman pada luasan yang sama. Dan setiap akar tanaman selalu mendapat pasokan air yang kaya akan zat hara.

Teknik bertanam seperti ini memiliki beberapa keuntungan, seperti tidak ada lagi hama tanah, tidak lagi diperlukan pestisida, sehingga sayuran yang ditanam terbebas dari racun kimia. Selain itu, tidak perlu lagi penyiraman. Sistem aquaponik menggunakan hanya 2% dari kebutuhan air pada budidaya konvensional. Air secara konsisten disirkulasikan, dan tidak akan kehilangan air akibat penyerapan tanah karena akar tanaman terendam dalam air bernutrisi.

Itulah yang dijalankan Chesapeake Aquaponics, sebuah lembaga profit yang punya komitmen untuk menghasilkan produk tanaman dan ikan yang sehat, serta berkualitas tinggi.  Lembaga yang didirikan Ellen Perlman ini berada di Baltimore, Barryland, Amerika Serikat.

Di Negeri Paman Sam, aquaponik sedang menjadi trend. Satu hal yang menjadikan aquaponik begitu menarik adalah adanya kekhawatiran tentang punahnya species ikan akibat penangkapan berlebihan. Sebuah sumber menyebutkan bahwa separuh hasil panen ikan dunia merupakan hasil dari penangkaran. Sayangnya metode ini banyak menghasilkan polusi lingkungan.

Menurut Ellen, ia dan timnya menanam beberapa sayuran yang bisa dikonsumsi di segala musim. Jadi, pada saat musim dingin tiba, orang tetap bisa mengonsumsi sayuran yang ditanam di musim panas. Semua tanaman tersebut tumbuh di dalam air, mengapung di kotak-kotak styrofoam. Tanaman seperti salada, cabai, dan ketimun bisa menghasilkan panen mingguan sekitar 5 hingga 10 kilogram. Sedangkan panen ikannya sendiri bisa mencapai 250 kilogram per tahun.

Saat musim dingin tiba, kolam-kolam di Chesapeake dihangatkan. Ellen mengaku jika sampai saat ini belum mendapatkan keuntungan berarti karena biaya yang dikeluarkan pun sangat besar.  Namun dengan beberapa keunggulan aquaponik yang semakin digandrungi di Amerika, ia yakin dengan masa depan usahanya. Disamping sayuran yang dapat dijual, ikannya pun dapat dijual, karena sistem aquaponik menghasilkan keduanya.  Selain itu, waktu yang efisien juga menjadi keunggulan sendiri dari aquaponik. Sebagai contoh, tanaman selada yang biasanya dipanen setelah 60 hari, dengan sistem ini hanya dalam waktu 29 hari sudah dapat dipanen.

Bagaimana dengan sahabat DoInc? Tertarik dengan teknik bertanam seperti ini? Semoga menginspirasi ya :)

 

Sumber:
VOA Indonesia
Chesapeake Aquaponics