Hari Rabu tanggal 25 April 2012 adalah Hari Inspirasi bagi saya. Hari tersebut diawali oleh ayunan langkah ratusan sukarelawan dari berbagai profesi yang bergegas menuju 25 Sekolah Dasar (SD) di seputar Jakarta untuk mengajar. Hari yang menandai interaksi baru antara dunia pendidikan dengan masyarakat professional – antara guru-guru amatir yang dipenuhi semangat dengan murid-murid yang penuh minat – antara kebutuhan dengan kepedulian. Ini adalah bagian dari inisiatif #KelasInspirasi yang diusung oleh panutan saya mas @aniesbaswedan dan kawan-kawan Gerakan Indonesia Mengajar. Sebuah inisiatif keren yang ditujukan untuk berbagi ilmu, cerita dan harapan. Sebuah langkah awal untuk menjalin tali kasih dan kepedulian diantara sesama bangsa Indonesia untuk masa depan yang lebih baik.

Saya beruntung bisa jadi salah satu guru SD dadakan bersama-sama dengan @sheggario @elsachristine @zoyaamirin @kkusumawardani @mrtampi @iKosasih @wumard dan banyak teman lain. Kami memperoleh mandat untuk mengajar 6 kelas di SDN 04 Duri Pulo yang diapit oleh gang-gang sempit dikawasan perumahan padat Roxy, Jakarta Barat. Kehebohan mempersiapkan materi sudah terjadi sejak beberapa minggu sebelumnya. Walaupun sudah sering bicara di depan publik, saya sama sekali awam bicara dihadapan anak-anak yang baru saja melepas usia balita. Pikiran dipenuhi pertanyaan dan kekhawatiran: Apa yang harus disampaikan? Bagaimana cara penyampaiannya? Apakah perlu pakai presentasi, role play atau bentuk lain? Bagaimana kalau mereka tidak mengerti?

A small group of people who care can actually change the world.

Walaupun memperoleh dukungan dana dari salah satu alokasi APBN terbesar, jangan bayangkan SDN 04 Duri Pulo punya semua kelengkapan belajar-mengajar yang dibutuhkan. Sebaliknya, sekolah ini – sebagaimana ribuan sekolah lain ditanah air – masih sangat memerlukan dukungan dari anda, saya dan kita semua.

You don’t really care unless you allocate your time & attention. Apapun yang saya pikir saya tahu sebelum mengikuti #KelasInspirasi tidak sebanding dengan apa yang dirasakan saat menjalankannya. Seorang anak kelas 1 menggunakan agenda bekas tahun 2000 sebagai buku tulis. Ini pemberian ayahnya yang bekerja sebagai pemulung. Adalagi anak kelas 3 yang menggambar mobil sebagai bentuk keinginan menjadi supir taxi saat dewasa nanti. Jawabannya saat ditanya kenapa: “Supaya punya seragam dan bisa mengajak ibu, bapak dan adik jalan-jalan keliling kota.” Masih banyak cerita lain yang membuat saya terdiam dan seringkali, termenung hingga sekarang.

Big Dreams require vision & inspiration. Mas @aniesbaswedan benar saat mengatakan bahwa kehadiran kami bukan sekedar untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Lebih penting dari itu, kehadiran kami adalah sarana agar anak-anak berani bermimpi tinggi. Kedatangan kami adalah agar anak-anak SD itu bisa bercerita pada orangtuanya bahwa mereka ingin lebih sukses, ingin punya masa depan yang gemilang. Lagipula, siapa yang bisa bermimpi pergi ke Roma apabila tidak pernah tahu kota tersebut ada. Siapa yang mampu bermimpi jadi ilmuwan handal, astronot hebat ataupun arsitek brilian bila tidak pernah paham arti profesi-profesi tersebut?

Bagi saya, partisipasi dalam #KelasInspirasi menandai hari istimewa dengan pengalaman yang tidak ternilai. Apabila anda masih membaca hingga bagian ini maka sekarang saatnya untuk meluangkan waku melakukan apapun yang benar-benar anda pedulikan. Do you want to witness a miracle? The more you share – the more you care – the more you gain.

Disceredocendo – Estdeus in nobis.

 

 

Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas.

Photo: instagram #kelasinspirasidari @elsachristine

Comments

  1. Crescit in Cundo, bertumbuhlah selagi berjalan.
    Salut buat teman2 Indonesia Mengajar.