Merhatiin nggak, beberapa tahun belakangan ini ada beberapa brand yang jadi favorit anak gaul dan kekinian? Brand seperti Supreme dan OffWhite adalah dua dari beberapa brand yang menantang arus mainstream alias melakukan counter culture terhadap pasar yang dikuasai oleh merek-merek/perusahaan besar. Tak jarang, harga yang mereka berikan untuk produknya di atas brand besar, tapi toh penikmatnya menilai wajar-wajar saja. Mungkin karena ada faktor “Ah, gue kan beda karena brand yang gue pakai bukan brand mainstream” atau “Suka-suka gue” yang dijual  oleh kedua brand tersebut.

Counter culture sendiri adalah sebuah subkultur yang memiliki nilai dan norma berbeda dengan masyarakat kebanyakan (mainstream). Seringkali mereka yang terlibat berada di sisi oposisi kultur mainstream. Counter culture menggambarkan etos dan aspirasi dari populasi tertentu di berbagai era. Salah satu contohnya adalah gerakan hippie yang marak di tahun 1960-an dan punk yang eksis di tahun 1970-1980-an

Brand-brand seperti Supreme, OffWhite dan Anti Social Social Club berhasil menangkap kultur publik atau konsumen yang cuek, anti sosial, fanatik sekaligus hedon. Dari konsumen tersebut mereka membentuk sebuah kultus, seperti yang biasa kita kenal dengan Apple Fanboy yang ngebela apapun yang Apple keluarkan walau dikata teknologinya ketinggalan dengan elektronik serupa dengan harga berkali-kali lipat di atas. Jadi, nggak usah heran kalau member kultus brand-brand  ini rela membayar seharga Rp8 juta untuk sebuah hoodie. Bagi mereka yang ada di luar kultus mungkin bertanya-tanya, “Ih, kok mau-mau aja?” tapi bagi penikmatnya, pertanyaan itu akan dijawab dengan “Why not?”

Pertanyaannya, saat brand-brand  ini telah dinikmati banyak orang, apakah mereka tetap bisa disebut sebagai brand counter culture?

cc