Apalah arti sebuah nama. Pernah denger pepatah itu, kan? Nggak cuma berlaku buat orang aja, brand-pun mengalami hal yang serupa.

Menurut Philip Kotler/Gary Armstrong dalam buku Principles of Marketing, brand didefinisikan sebagai “nama, istilah, hingga simbol (tak jarang kombinasi semuanya) yang bisa mengidentifikasi pembuat atau penjual produk.” Sedangkan American Marketing Association mendefiniskan brand sebagai “nama, istilah, desain, simbol, atau fitur lain yang bisa mengidentifikasi produk atau layanan penjual sebagai sesuatu yang berbeda dengan penjual lainnya.”

Dua definisi itu jelas-jelas menyebut ‘nama’ sebagai basis sebuah brand. Memang nggak salah, tapi bila dulu ‘nama’ sebuah brand bisa meluncurkan sebuah produk menjadi sesuatu yang populer, kini nama nggak lagi dipandang sebagai satu-satunya alasan kenapa konsumen memilih sebuah produk. Konsumen saat ini menginginkan proses yang bisa mereka rasakan sehingga mereka seolah-oleh bisa terlibat dan merasa memiliki brand tersebut.

Seperti yang disoroti oleh founder do.inc, Handoko Hendroyono:

Brand kini tak cukup dengan nama tenar atau popularitas.

Era brand adalah bisnis model atau platform adalah sebuah fakta. Dan inilah yang menjadi #gamechanger .

Era brand seperti Airbnb atau Wework atau Supreme adalah tanda brand yang terputus antara crowd dengan proses produksi akan sulit atau menemui tantangan.

Brand adalah proses atau experience yang melibatkan. Brand bukan sekedar nama kuat yang menancap di benak publik. Ya. Apalah arti sebuah nama kalau tak memiliki makna…

br