Di era saat ini semua komunikasi dilakukan melalui pesan digital, keberadaan media penyampai pesan seperti kartu pos makin ditinggalkan. Namun, sekelompok anak muda di komunitas Card to Post berani menantang trend zaman.

Card to Post adalah gerakan yang mengajak kawan-kawan semua untuk membuat kartu pos sebagai sarana menyampaikan pesan, entah itu berupa ungkapan perasaan, ucapan selamat, atau sekedar sapaan.

IMG_7652

Card to post lahir sebagai gerakan digital melalui Twitter dan Facebook pada tanggal 17 November tahun 2011. Tujuannya adalah membiasakan kembali anak muda untuk berkirim kartu pos.

Ucha Yushanti, salah satu penggiat komunitas ini saat ditemui DoInc mengatakan bahwa komunitas ini juga memupuk kreativitas anggotanya. Pasalnya, di komunitas tersebut anggota juga didorong untuk membuat kreasi kartu posnya sendiri.

“Daripada punya karya seperti gambar, foto, art work, atau kolase dan hanya disimpan dalam laptop, di kamar atau belum kesampean untuk ikut pameran, mending dikirim buat teman-teman melalui card to post,” ujarnya.

Ada sensasi tersendiri ketika menggunakan media komunikasi ini, salah satunya ialah efek komunikasi yang berwujud. Yakni, barang yang berwujud itu bisa disimpan sebagai memorabilia. Adanya upaya membuat kreasi kartu pos sendiri tentu juga menimbulkan sensasi tersendiri pada pengirimnya. Sebab, mereka tentu mengerahkan kreativitasnya untuk membuat karya yang menarik. Dan sensasi-sensasi itu memang tergambar dari komentar para anggota di situs yang mengirim atau menerima kartu pos.

Komunitas Card To Post mulai terekspos ketika membuat program kartu pos untuk Presiden yang diadakan sejak bulan Februari sampai September dan berhasil mengumpulkan ratusan kartu pos-kartu pos yang dibuat untuk Presiden. Puncaknya adalah tanggal 9 September yang bertepatan dengan ulang tahun Pak SBY, komunitas ini memamerkannya secara online.

IMG_7649

 Ucha, ketika ditemui DoInc saat Socmedfest 2013

Ucha menambahkan bahwa selama Socmedfest 2013 kemarin, banyak yang memiliki ahli menggambar atau melukis yang menuangkan kreasinya di spot Card To Post.

“Ajaib banget, mereka mampir dan bikin karyanya on the spot. Kartu-kartu ini akan kita kirim kepada mereka yang tidak saling kenal. Jadi intinya sebagai ajang pertemanan baru juga, ” katanya.

Gerakan Card to Post bukan merupakan perlawanan terhadap penyampai pesan digital, namun sebagai salah satu alternatif dalam berkomunikasi dan membuat sebuah media yang berbeda.

Dalam situs cardtopost.com tercatat, kartu pos yang terkirim antar anggota sudah mencapai 1.038 buah. Bagi yang ingin membuatnya, di dalam situs cardtopos.com juga diajarkan step-by-step mendesain sebuah kartu pos.

Bagaimana dengan sahabat DoInc sendiri? Masihkah ada yang berkirim surat melalui kartu pos?