Beberapa hari lalu saya pergi ke Taiwan dengan mengikuti city tour mengunjungi beberapa tempat. Lokasi yang dikunjungi tak seberapa menarik menurut saya. Yang menarik justru si Hasan sang tour guide yang sangat bagus bertuturnya. Dia seorang storyteller sejati. Hal yang biasa menjadi menarik melalui cerita-cerita dia. Kisah percintaan Chiang Kai Sek sampai heboh kematian Teresa Teng yang penuh dengan skandal percintaan. Lalu apa hubungannya dengan DIY DAY yang saya ambil sebagai judul artikel ini?

Muncul kekesalan pada diri sendiri ketika si Hasan memberi penjelasan pada salah satu perjalanan di sebuah night market. Ia menjelaskan apa saja yang dilewati oleh rombongan bis.

“Yang di sebelah kanan ini adalah sebuah market yang menjual barang-barang dengan harga relatif mahal, yaitu produk-produk DIY”. Dengan gaya bicara seperti guru idola…:”Tahu apa itu DIY?”. Dengan spontan saya jawab: “Do It Yourself…” Sebut saja Bram di belakang saya kontan mentertawakan jawaban saya sambil mengulang jawaban saya sambil tertawa. “Do It Yourself? Hehehe….” Dan ketika si Hasan bilang: “Do It Yourself”. Bram terperangah.

Si Hasan menjelaskan bahwa produk-produk DIY sangat dihargai di Taiwan dan di dunia ini sekarang. Tapi saya menduga tak begitu di negara kita. Ada persepsi bahwa buatan tangan atau DIY kurang dihargai dibanding produk buatan pabrikan. Produk-produk yang sifatnya custom made kurang dihargai di sini.

DIY OR DIE

Tumbuhnya kelas generasi kreatif yang digambarkan dengan pas oleh Richard Florida dalam “The Rise of Creative Class” 2002 menarik untuk diamati. Dengan fundamental yang ia sebut sebagai 3T; Talent, Tolerance, dan Technology, spirit DIY tumbuh dengan baik. Menghargai talenta dan disebarkan melalui cara berkomunikasi yang horisontal lewat digital. Bagi saya pilihannya saat ini DIY or DIE!

Bagaimana tidak, tiap hari kita harus update perkembangan dan perubahan. Dan kita harus mengikuti perubahan itu karena jika tidak kita akan tertinggal. Dan celakanya kita harus melakukannya sendiri. Sendiri karena tak bisa segala sesuatu minta tolong kepada orang lain. Sederhana saja jika kita mau memasukkan data-data untuk mendaftar aplikasi di mobile atau komputer kita, ya kita harus melakukannya sendiri.

Kegiatan yang berbasis komunitas dan sifatnya membangun makna akan semakin membuat personal branding eksis saat ini. Di sinilah letak landasan mengapa DIY sebagai gerakan sangat diperlukan oleh diri kita. Saya memperhatikan di Instagram dan Pinterest, figur-figur individu menjadi brand dan berjualan produk secara gerilya. Seorang illustrator rajin upload karya-karyanya di Instagram dan juga blognya. Dan karena akses yang begitu terbuka dia membuka e-shopnya sendiri. Ya DIY! Do It Yourself.
“Once you’re on the internet, you don’t need to be a tycoon or a rock star to have a huge impact on society”. – Hillary Clinton
Kesetaraan adalah spirit dan attitude yang harus kita pahami dan resapi. Jangan ragu untuk memanfaatkan kesetaraan yang gratis ini. Do It Yourself menurut saya sebuah attitude yang perlu disebarkan.

Hari apa yang penting bagi saya secara subyektif saat ini? DIY DAY! Sebuah hari yang tidak hanya direnungkan atau diperingati dengan seremoni. Lakukan! Alangkah indahnya bagi bangsa Indonesia menghasilkan sesuatu yang produktif. Seringkali di sosial media saya ngomel dan bawel bahwa kita sangat puas menjadi bangsa konsumen belaka. Dijajah bangga. Menjadi tempat yang seksi untuk investasi (karena sekaligus pembeli) bangga. Perusahaan lokal dibeli bangga. Di sekitar kita banyak Starbucks, KFC, LotteMart, bangga.

Banggalah kita melakukannya sendiri… DIY!