Sahabat saya, @andysjarif beruntung bisa bertemu idolanya minggu ini seorang pemikir, entrepreneur, konsultan, petinggi perusahaan global dan investor, idola Andy ini telah beberapa kali membidangi beberapa transaksi dahsyat di dunia teknologi-informasi global. Saya pun tidak bisa tidak kagum setelah memperhatikan pembawaan yang santun, penuh perhatian dan berwawasan luas. Satu hal yang menginspirasikan saya untuk menulis kolom ini terjadi saat saya bertanya apakah dia melihat diri sebagai entrepreneur, karyawan atau professional. Sang Idola dengan santai namun penuh makna menjawab “It does not matter – what matters is how you can make a difference in any of those capacity.” Singkat namun punya signifikansi luar biasa bagi saya pribadi.

Dreamers who do – who are they? Saya kerap meyakini kalau entrepreneur adalah kelompok yang paling pantas memegang kredo pemimpi yang sigap bertindak merealisasikan impiannya.

Sahabat baru saya @Riyeke, penggagas gerakan UKM goes online adalah salah satu contoh  paling sesuai. Dia punya mimpi memunculkan 1 juta orang entrepreneur independen melalui platform online. Tanpa menunggu dukungan siapapun, Riyeke dan kelompoknya telah, masih dan akan terus bergerak cepat melakukan perubahan.

Just do what you love on your own terms & great money will follow. Merintis usaha sendiri bisa jadi adalah manifestasi passion yang paling berani. Pilihan ini adalah HAK setiap orang meski bukan kewajiban setiap orang.

Which one is riskier: being secure & safe OR being happy & fulfilled?  Saya kenal banyak sahabat yang senantiasa melakukan hal-hal dahsyat untuk merealisasikan impian mereka tanpa harus terikat pada sebutan entrepreneur. Sebut saja @agussari, pejuang lingkungan hidup yang merelakan tidak digaji dalam 1 tahun pertama keterlibatannya dalam sebuah yayasan. Cerita lain adalah sahabat saya @dondihananto memilih untuk meninggalkan kenyamanan kehidupan korporat raksasa untuk bergabung dengan sebuah inisiatif local pembiayaan mikro. These are the keys: imagination, honesty, courage & care. Bagi Agussari, dondihananto dan banyak teman-teman seperti mereka, keberanian mengambil langkah dibarengi kepedulian nyata untuk berkontribusi.

Kalau membaca kisah orang-orang hebat dalam dunia usaha ada beberapa kesamaan utama:  mereka memulai usaha karena teramat sangat menikmati menjalankannya (baca: bukan karena uang). Dan seringkali mereka tidak merasa perlu menyebut diri sebagai pemilik atau entrepreneur. Vita non estviveresedvalare vita est.

 

 

Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas.