Enough!!!! Said :

“….as everybody is saying, we worked that hard for NOTHING. We work that hard just to make the rich people richer. We are not changing the world here!!!…”

 I am Said :

 “Well said stress free and everyone else who’s feeling the same. The advertising industry will continue the struggle and will continue to press harder on its people because there’s less money to be made in the current operating business models. True creativity will spring forth from outside agencies until agencies learn to treat employees with value”.

 

Ribuan komentar di sosial media menyebar dengan cepat (viral) dan entah kapan akan berhenti. Dua komentar saya petik dari CampaignBrief, sebuah media advertising yang sangat prestise. Petikan yang sangat menohok dan menyadarkan saya bahwa peristiwa #RIPMitaDiran ini bukan lagi isu lokal tapi isu global yang universal dan relevan untuk industri.

Beberapa catatan dan pembelajaran bisa kita petik dari #RIPMitaDiran :

Gaya hidup dan pola hidup seperti tanpa sekat dan tidak ada yang bisa menutup-nutupi. Semua orang share yang dirasakan dan dialami detik demi detik. Pola hidup dan tingkah laku dikomunikasikan secara REAL TIME. Siapa yang mampu dan mau membendungnya? Menarik untuk diamati, apa yang kita konsumsi dalam hitungan detik menyebar ke seluruh dunia. Sebuah brand bisa (jadi) rusak oleh sebuah peristiwa yang tak bisa diduga. Sebuah peringatan bagi brand untuk mengelola komunikasi brandnya secara lebih baik dan mungkin tidak lagi ala advertising era satu atau dua dekade lalu.

Twitter, Path dan Instagram menyerbu dengan deras. Sosial media menyebar dengan cepat dan “mengalahkan advertising” itu sendiri. Menarik yang akhirnya menjadi diskursus di dunia advertising lintas negara. Isu bahwa advertising harus di “re-thinking”, “re-design” atau “re-structuring” menghujam dengan tajam. #RIPMitaDiran seperti membangkitkan pelaku advertising business untuk lebih jeli menyikapi The Future of Agencies.

Apakah berlebihan atau terlalu emosional membahas The Future of Agencies dengan #RIPMitaDiran sebagai letupannya?

Menurut saya menjadi wajar dan justru harus ada perbaikan dari #RIPMitaDiran ini, karena jika tidak justru “korban” ini terlalu mahal. Ini menjadi isu industri advertising secara global karena sebelumnya juga pernah terjadi di belahan dunia lain. Juga pernah menimpa rekan-rekan production house di Jakarta.

Dunia advertising harus menemukan kembali jati dirinya dengan memperbaiki relasi antara klien dan advertising agency.

Dunia advertising sebenarnya tak bisa dipisahkan dari dunia kreatif yang saat ini di Indonesia sedang berkembang dan harusnya menjadi andalan ekonomi ke depan. Faktor persaingan yang sangat ketat harusnya menjadi energi positif untuk melakukan inovasi-inovasi yang bisa memberi terobosan dan memberikan kemakmuran bersama. Adalah tantangan tersendiri bahwa model advertising business sekarang apakah ideal untuk memberikan kemakmuran bersama dan memberi kontribusi baik untuk dunia ini.

Yuk kita pikirkan dan pecahkan bersama.

Saya setuju dengan twit tokoh advertising ini :

“This is worst & most extreme example of why our industry must redesign its business”. – Cindy Gallop – BBH Agency

 

 

Comments

  1. Cindy Gallop says:

    Thank you for this post. You might be interested in my presentation on ‘Redesigning The Business Of Advertising’:

    http://www.theguardian.com/media-network/video/2012/nov/02/advertising-business-cindy-gallop

  2. Cindy Gallop says:

    (Apologies, accidentally hit ‘submit’ halfway through comment) This terrible tragedy is why our industry must reinvent itself completely for the future, which it is appallingly bad at doing. I would love to see an openness and willingness to do that in Indonesia, a country I love and have visited many times and where my sister Annabel Gallop, a noted Indonesian academic and expert on historic manuscripts, spends a lot of her time.