Apakah kamu sering menemukan toko yang mencantumkan harga yang terlihat nanggung? Nahsesungguhnya toko tersebut tengah ‘memainkan’ trik psikologis untuk para pelanggannya. Misalnya, harga Rp299.000 terlihat lebih menarik dibandingkan harga Rp300.000 meski perbedaannya tidaklah terlalu besar. Orang-orang tersugesti harganya masih Rp200.000-an jadi nggak mahal-mahal amat, dibandingkan harga yang sudah menginjak ‘kepala 3’.

Contoh lainnya yang bisa dicontoh adalah cara yang dilakukan oleh Majalah Economist untuk iklan berlangganan mereka. Dalam iklan disebutkan beberapa biaya berlangganan: $59 untuk langganan online,  $125 untuk langganan edisi cetak, dan $125 untuk paket berlangganan online dan cetak. Tentunya, pelanggan yang melihat penawaran ini langsung mengambil paket langganan online dan cetak karena mereka bisa dapat 2 item dengan harga yang lebih murah. Tapi, lain ceritanya jika Majalah Economist menghilangkan paket langganan cetak $125-nya? Kemungkinan pembaca akan lebih memilih paket langganan online senilai $59.

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa kok majalah ini mencantumkan harga langganan edisi cetak yang tidak akan dibeli?  Sebenarnya Majalah Economist memang mengarahkan pembaca untuk membeli paket langganan ketiga. Mereka sengaja mematok harga paket langganan cetak begitu mahal untuk membuat paket langganan ketiga terlihat lebih murah. Karena secara psikologis, orang akan memilih harga lebih rendah dan berani membayar lebih mahal jika mereka bisa mendapatkan layanan atau produk yang lebih banyak.