Kebutuhan makan siang bagi pekerja di Ibukota memang kadang-kadang bisa sangat demanding. Makan di restoran, menunya kurang lengkap, makan dipinggir jalan meragukan sanitasinya, makanan katering dari kantor, bosan. Seperti yang dialami Cynthia Tenggara, ia termasuk orang yang cukup rewel dan picky eater – tidak suka nasi serta daging, namun suka sayur dan buah, akhirnya paket makanan katering yang disajikan perusahaannya banyak yang terbuang. Dari pengalaman tersebut malah timbul sebuah ide untuk menjadikan katering bisa dipesan secara retail dan online, dimana pelanggan bisa memilih menu yang ia sukai, sehingga makanan yang terbuang pun bisa dihindari.

Cynthia Tenggara bersama dua advisornya yaitu Ferry Tenka dan Jason Lamuda – founder Disdus pun ‘rembukan’ untuk membicarakan model bisnis serta sistem yang tepat untuk mendirikan katering online ini. Pada bulan Mei 2012, mereka merilis Berry Kitchen.

Pada awalnya, Berry Kitchen hanya melayani company partner saja, namun mulai September 2012 sudah melayani beberapa company baru dan retail (eceran) yang bisa diantar sekitar Jakarta. Berry Kitchen menawarkan menu yang berubah setiap harinya melalui website mereka www.berrykitchen.com, menu yang tertera hari ini diperuntukan untuk pesanan esok hari saat makan siang. Selain menu makan siang, Berry Kitchen pun membuat beberapa puding yang menggugah selera dan bisa dipesan kapan saja.

 

berry-kitchen

 

Pelanggan yang ingin mencoba memesan Berry Kitchen bisa memilih paket yang ditawarkan, setiap paket memiliki harga serta jumlah poin yang berbeda. Sistem poin dibuat berupa Top Up, jadi konsumen harus mengisi poin terlebih dahulu sebelum bisa memesan makanan. Berry Kitchen memilih menggunakan poin untuk menghindari kesulitan pelanggan dalam menghitung jika menggunakan harga rupiah biasa, dikarenakan pesananan makanan yang berupa mix and match.

Cynthia bercerita bahwa perjalanan Berry Kitchen tentunya tidak selalu ‘mulus’, tepat Februari 2013 lalu, kitchen mereka terkena banjir dan membuat Berry Kitchen harus tutup selama tiga hari, sementara koki-koki berusaha menyelamatkan bahan makanan dengan perahu. Namun, setelah itu, mereka segera melakukan recovery dan kembali beroperasi.

Ketika ditanya tentang rahasia marketing Berry Kitchen bisa berdiri sampai sekarang mempunyai 400 pax pesanan per hari, Cynthia mengemukakan bahwa mengelola komunikasi dan hubungan yang baik dengan pelanggan dan siapapun yang tertarik dengan Berry Kitchen adalah salah satu promosi diri yang akan menghasilkan efek words of mouth. Berry Kitchen sangat senang jika pelanggan mereka menyukai menu yang disajikan dan mem-posting menu makan siang mereka masing-masing pada media sosial @BerryKitchen.

“Never give up! Salah coba lagi salah coba lagi, along the way pasti ada jalan dan kita jadi tahu bagaimana caranya to make it works! Do our best and let God do the rest!”, begitu tutup Cynthia.

Comments

  1. Tu khan kita semakin dimanjakan di jagad online ini