Begitu mendengar kata narapidana alias napi, kebanyakan stigma yang dimiliki masyarakat adalah sosok-sosok yang tidak lagi bisa membaur dengan masyarakat akibat perbuatan kriminal yang mereka perbuat sehingga harus mendekam di hotel prodeo.

Namun, berkat kehadiran Jeera Foundation yang berada di pusat kegiatan napi seperti rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas), stigma tersebut bisa perlahan berubah. Seperti yang dilakukan pada para napi di rutan klas 1 Cipinang, Jakarta yang menggiatkan para penghuninya agar mereka memiliki keterampilan ketika keluar dari lapas dan penghasilan ketika mereka masih terkurung dalam lapas.

Jeera Foundation dipelopori oleh tiga orang napi, yaitu Rommy Redono Hadi, Rino Lande dan Gerhan Ntoma memiliki motivasi untuk melakukan sesuatu untuk orang lain, maka pada 23 Juni 2016 Jeera Foundation terbentuk. Terbentuknya yayasan ini mendapatkan sambutan baik, termasuk dari menteri hukum dan HAM, Yasona Laoly.

Keberadaan Jeera Foundation sebenarnya merupakan pengembangan kegiatan lapas yang sudah ada sebelumnya, sehingga saat ini Jeera Foundation memiliki cabang usaha seperti Jeera Coffee, Jeera Craft, dan Jeera Bags.

Sambutan dari masyarakat-pun dinilai baik karena mereka jadi mengetahui para napi juga bisa melakukan kegiatan menghasilkan, maka merekapun ikut mendukung. Niatan Jeera Foundation ini juga berhasil menggaet sekolah desain terkenal di New York, yaitu Parsons School untuk bekerjasama agar para napi bisa berkarya dengan desain-desain baru, sehingga mereka bukan hanya mengikuti desain yang sudah ada.

Bahkan, keberadaan “Jeera Foundation” telah diakui PBB melalui perwakilan United Nation on drugs and crime, Philipp Meissner yang pernah berkunjung langsung ke Rutan Klas 1 Cipinang.

Bagi Jeera Foundation, hanya satu syarat bagi napi untuk bergabung dalam kegiatan yang dilaksanakan, yaitu mau berubah.