“Saya tiap hari pasti melewati jalur ini karena saya mengajar,” kata Samba ketika rombongan DoInc menginjakkan kaki di Sekolah Dasar Pantai Bahagia Muaragembong. Waktu menunjuk angka 11 kurang, teman-teman komunitas dibuat terpana dengan keberadaan sekolah milik pemerintah tersebut. Curah hujan yang tinggi sejak beberapa hari terakhir menjadikan luapan sungai Citarum merambah sekolah tersebut.

Perlu diketahui bahwa di Muaragembong ini terdapat Lutung Jawa, sebuah hewan primata yang dilindungi oleh pemerintah melalui Kepmen Kehutanan dan Perkebunan Nomor : 733/Kpts-II/1999. Jumlahnya kini tidak sampai 100 ekor.

Sejak adanya Peraturan Daerah yang mengubah kawasan lindung menjadi kawasan produksi di Muaragembong, malah menjadikan ajang pembenaran untuk merusak lingkungan dengan membuka lahan tambak secara perorangan, termasuk perburuan terhadap Lutung Jawa yang dipercaya daging dan hatinya sangat berkhasiat. “Padahal jelas-jelas ada peraturan bahwa Lutung Jawa ini adalah hewan yang dilindungi,” ujar Samba.

Lahan tambak di sekitar Muara Bendera dan beberapa muara lainnya di Muaragembong sendiri adalah lahan negara. Karenanya ketika donasi sudah terkumpulkan, Samba dan teman-teman relawan akan membayar lahan tersebut untuk dikembalikan ke aslinya sebagai habitat Lutung Jawa. “Kita akan bayar, kita akan kembalikan tambak-tambak itu ke habitat aslinya sebagai hutan bakau. Karena harganya hanya Rp 5000 per meter dan itu tanah negara,” lanjutnya. Di sisi lain, dengan adanya hutan bakau diharapkan muncul juga tumbuhan lain yang menjadi makanan Lutung, seperti buah bidada. Buah ini selain menjadi makanan lutung, juga merupakan ciri khas daerah pesisir. Menurut Samba, buah tersebut bisa dijadikan komoditi sebagai bahan olahan seperti sirup dan dodol, “Ke depannya tentu saja ini akan menjadi perhatian menarik karena bisa menjadi oleh-oleh khas Muaragembong.”

Rombongan lalu masuk ke salah satu kelas di Sekolah Dasar Pantai Bahagia. Airnya sangat tinggi, hampir sebatas lutut orang dewasa. Bisa dibayangkan anak-anak di kelas tersebut terganggu selama mata pelajaran berlangsung. “Dalam beberapa kesempatan, proses belajar mengajar harus tetap ada. Karena kalau nggak, anak-anak akan ketinggalan pelajaran,” kata Arief yang diamini teman relawan lainnya.

Saat kami keluar kelas, dari jauh nampak seorang ibu melambai-lambaikan tangan. Kami pun menghampirinya. Warga sekitar memanggilnya Ibu Jani. Ia merupakan salah satu warga lokal yang mendukung penyelamatan Muaragembong. Ia juga rutin membantu teman-teman relawan menanam mangrove. “Biar empangnya bagus lagi, nggak kebanjiran lagi. Kasian orang-orang sini kalo kebanjiran,” jelasnya dengan logat Betawi dan Sunda.

Ibu Jani juga mengatakan bantuan pemerintah setempat belum maksimal, “Pemerintah mah baru katanya katanya aja. Kasihan makin ke sini makin sengsara. Semalam saja ibu nggak bisa tidur karena anak belum pulang karena kebanjiran.” Menurut ibu Jani, sebagian besar pedagang sembako di sekitar rumahnya sudah jarang karena lebih memilih tempat yang aman untuk usaha. Belanja harian pun cukup jauh ke desa seberang. Hal yang sama dialami pak Alim yang rumahnya digenangi air Muara Citarum. Ia sangat berharap dengan bantuan pemerintah terutama soal obat-obatan dan makanan pokok.

Bu Jani dan pak Alim juga sangat berharap agar sekolah dan jalan segera diperbaiki.

Kami kemudian kembali ke perahu yang dikendalikan oleh Pak Jaka yang dibantu anaknya, Iyang, yang masih duduk di kelas 6 SD. Di dalam kapal, kami melanjutkan obrolan dengan Pak Jaka dan Iyang. “Anak-anak sini mah pada jago kalo berenang. Jangan ditanya,” kata Pak Jaka.

Iyang, yang juga murid Samba memang selalu membantu ayahnya jika sekolah sedang libur. Ia kadang-kadang ikut menanam mangrove jika teman-teman relawan sedang ada agenda menanam. “Gampang banget nanamnya, tinggal gitu doang,” kata Iyang sambil menunjukkan gerakan menancapkan sesuatu dengan tangan kanannya.

Waktu menunjuk angka 12. Rombongan yang berjumlah 13 orang ini kemudian rehat sejenak untuk makan siang di salah satu warung yang ada di Muara Citarum. Selama setengah perjalanan itu, tim DoInc dan teman-teman dari komunitas fotografi makin yakin jika Muaragembong ditata dan dikelola dengan baik akan menjadi potensi wisata yang menggiurkan di masa yang akan datang.

Nah, nantikan cerita perjalanan kami berikutnya menjelajah hutan-hutan bakau sambil menantikan penampakan Lutung Jawa dan matahari terbenam di sekitar lahan tambak.