Minggu pagi, puluhan muda-mudi Bekasi berkumpul di area Car Free Day yang ada di jalan protokol Ahmad Yani. Selain berolahraga pagi, perhatian mereka juga tertuju kepada sekelompok anak muda yang mengantri menuliskan sesuatu pada sebuah spanduk yang ada trotoar. Spanduk bertuliskan “Run For Mugo” dengan ikon sebuah hewan Lutung Jawa ini adalah bagian dari kampanye penyelamatan daerah Muaragembong yang digerakkan oleh Bekasi Green Attack, Ayopeduli.com, Young on Top, dan Earth Hour Bekasi.

DoInc yang tiba di lokasi acara sejak pukul 6 pagi melihat antusias warga Bekasi ini sangat luar biasa terhadap kelangsungan hidup daerah Muaragembong. Mereka langsung mengantre untuk melakukan registrasi ulang. Kehadiran Abang dan Mpok Bekasi juga menambah semarak acara pagi itu.

Meski sempat diguyur hujan deras, acara tetap dimulai tepat pukul 7. Pejabat Sekda Kota Bekasi secara simbolis melepas ratusan peserta lari dalam guyuran hujan deras. Rute yang dilalui peserta ialah sejauh 5 km, yakni area Car Free Day, melintasi landmark Summarecon dan berakhir di Mal Summarecon yang ikut mendukung acara ini. Terbukti, sebuah layar LED dengan logo #SaveMugo disediakan Mal ini selain sebuah panggung acara utama yang ada di The Downtown Walk.

Para peserta finish di Mal Bekasi Summarecon dengan kondisi basah kuyup. Mereka langsung disambut oleh Yora dan Kibot yang merangkap sebagai host acara. “Ayo silahkan yang mau ganti pakaian, kamar mandinya lewat sini ya,” kata Yora mengajak peserta yang baru tiba. Komunitas Earth Hour Bekasi kemudian membagikan air mineral beserta sebuah Pin #SaveMugo.

Alunan musik dari Indonesia Bass Family kemudian terdengar, sedikit menghibur para peserta yang kelelahan setelah lari sembari hujan-hujanan. “Hujan ini berkah lho, ini menandakan acara kita juga sebagai sebuah berkah,” kata Kibot.

Setelah pembukaan acara dan beberapa sambutan, sebuah talkshow bertemakan “Pelestarian Lutung Jawa” kemudian menjadi inti acara #RunForMugo. Talkshow seru ini cukup menambah pengetahuan para peserta seputar keberadaan wilayah Muaragembong yang sebetulnya bisa menjadi acuan tempat wisata menarik wilayah Bekasi di masa datang. Beberapa slide foto menambah serunya acara talkshow yang menghadirkan pembicara Ferlansyah dari komunitas Bekasi Green Attack, Anugrah Suradipurwo dari Paragembel, Samsul Bahri dari eLKAIL (Lembaga Kajian Advokasi dan Informasi Lingkungan), dan Sofian Iskandar dari peneliti pusat litbang dari Kemenhut.

Di akhir acara, panitia kemudian memberikan door prize dan ditutup dengan iringan musik dari Indonesia Bass Family.

Hafidz Ismail, salah satu panitia yang memfasilitasi registrasi peserta mengatakan bahwa acara yang baru pertama kali digelar ini tergolong sukses, “Ada lebih dari 500 peserta yang mendaftar secara online melalui Paragembel dan Ayopeduli,” ujarnya kepada DoInc. Selain dari dukungan swasta, #RunForMugo juga didukung oleh pemerintah kota Bekasi, “Padahal Muaragembong itu adanya di wilayah Kabupaten Bekasi. Setidaknya ini adalah movement untuk menyadarkan warga Bekasi secara umum,” terang Hafidz yang juga pegiat di komunitas Paragembel.

Hafidz juga menjelaskan mengenai keterlibatan komunitasnya di acara #RunFormugo tersebut, “Awalnya saat ada kumpul-kumpul bareng komunitas se-Bekasi, kita diajak movement ini. Paragembel yang biasa jalan-jalan tentu sangat mendukung. Kita ke sana terakhir tanggal 13 kemarin. Kalau bukan kita, siapa lagi?” ujar pria berkacamata ini.

Akses ke Muaragembong memang tidak mudah, harus melihat secara langsung bagaimana kerusakan habitat di daerah tersebut. Namun setidaknya movement seperti #SaveMugo dan #RunForMugo ini adalah sebuah gerakan positif menuju keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Bekasi khususnya, dan Indonesia pada umumnya.