Ini cerita sebuah ironi. Ironi yang sempurna. Negeri yang subur, hasil alam berlimpah tapi dunia pertaniannya terbelakang. Bercocok tanam apapun bisa, tapi menjadi petani tak bangga.

Terkadang cerita ironi menjadi menu bahasan yang menjadi “normal-normal” saja. Jadi teringat “God Father” Mario Puzzo, bahwa dunia hitam justru lahir di lingkungan Vatican. Atau “The Firm” John Grisham yang menggambarkan ironi ketidakadilan di ranah dunia kerja yang akrab dengan keadilan yaitu dunia hukum. Atau anekdot lama “Mati ketawa ala Rusia”, kelucuan-kelucuan justru muncul di negeri yang tak memiliki sense of humor.

Saya cenderung tak percaya dengan ironi-ironi. Ini hanya mitos dan pembenaran belaka. Ini semata-mata kita tidak pintar melihat potensi diri saja. Melihat potensi diri adalah inspirasi. Kita membutuhkan inspirasi, bukan saling caci maki.
Caci maki atau menyerang pihak lain menjadi “gesture” pihak-pihak yang menjadi pemimpin (pelaksana kebijakan publik dan pembuat arahan kebijakan publik). sama seperti kredo dalam permainan sepak bola bahwa: “Menyerang adalah pertahanan terbaik”. Sebuah pemahaman kredo yang salah. Menyerang (baca: agresif) sebenarnya dalam arti penuh inisiatif, kreatif dan agresif.
Menyerang dengan senjata atau amunisi yang dimiliki. Melihat potensi diri menjadi kegiatan yang vital bukan saling caci maki dengan kaca mata kuda yang berhaluan untuk kesannya memajukan diri dan kelompoknya. Ini sudah basi. Sudah out of date.
“Pertahanan yang paling baik adalah menyerang” sangat tidak keren dijalankan oleh tim yang tidak kreatif atau tidak inspiring. Tidak keren kenapa? Karena hampir dipastikan gejala di mana harga cabai atau harga tahu/tempe atau daging mahal, yak arena ketidakpedulian muncul di mana-mana. Perilaku politik atau politisi telah mendistorsi bahwa masalah/problem menjadi alat untuk memperkaya diri. Problem bukan membangkitkan kreativitas untuk memunculkan bentuk solusi.

PROBLEM – SOLUTION
Dunia kreatif mengenal sebuah disiplin bahwa masalah adalah anugerah. Masalah adalah sebuah peluang untuk berkarya. Distorsi besar telah terjadi bahwa problem adalah peluang bagi politisi untuk jadi makelar masalah. Politisi telah banyak mengisi ruang-ruangnya bagi orang-orang dengan spirit oportunis sejati. Padahal problem adalah awal untuk seorang atau sekelompok orang agar dikenal luas.

Distorsi makna telah terjadi secara besar-besaran.

Fenomena harga cabai atau tempe yang mahal dan harga mobil yang murah adalah fakta yang menarik. Hal ini tak bisa dibahas atau dimengerti atau dipahami ketika pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan yang ada sebagian besar masih diisi oleh orang-orang yang kurang lebih sama. Tak perlu dipahami daripada pusing, dan yang bisa kita lakukan hampir-hampir tak ada, kecuali menggerutu sendiri saja.

Saya hanya bisa menyusun huruf dan membalik-balikkan menjadi sebuah ironi seperti yang saya pakai dalam judul artikel ini:
MALAH > MAHAL
SUBUR > BUSUR
RUSAK > RAKUS
KALAP > PALAK
RAMBU > BURAM

Bersiaplah dengan ironi-ironi:
Negara subur MALAH semua hasil pertaniannya serba MAHAL. Toko buah/pertanian dipenuhi dengan sayur dan buah impor.
Kita Negara SUBUR yang harusnya memakmurkan semuanya, justru menjadi BUSUR yang tajam untuk saling serang tanpa etika.
keRUSAKan harusnya menghadirkan ide-ide brilyan dan kerja keras, namun nyatanya justru memunculkan keRAKUSan.
Maslaah yang harusnya memunculkan peluang kebaikan, justru memunculkan KALAP dan melahirkan orang-orang yang kerjaannya menjadi PALAK bagi orang yang lemah.
Dan arti sebuah RAMBU hampir tak ada, justru menjadi mainan dan semakin BURAM.

Ironi-ironi ini akan berlalu karena sangatlah logis dengan spirit saling menyerang seperti kredo permainan sepak bola “Pertahanan yang paling baik adalah penyerang”. Kita lihat saja. Dan saya yakin arti yang positif akan segera muncul.