Gaya hidup kekinian dan repositioning kopi dalam masyarakat tidak hanya melulu milik kaum Adam. Para wanita-pun banyak yang pandai mengapresiasi kopi, entah karena mereka sudah doyan minum kopi atau awalnya hanya coba-coba ikut tren kekinian dan akhirnya kepincut juga. Hal ini bisa dilihat di berbagai kedai kopi yang bertebaran di berbagai wilayah, bahwa wanita juga ikut ambil bagian.

Tidak hanya sebagai konsumen, para wanita juga berperan penting di balik layar nikmatnya kopi yang tiap hari kita seruput. Wanita di berbagai belahan dunia merupakan tulang punggung produksi agrikultur global, dengan persentasi hingga mencapai 70% di berbagai negara. Hanya, karena ketidaksetaraan, banyak dari wanita yang tidak menyadari potensi penuh mereka sebagai pekerja dan anggota komunitas.

kw

Sebagai jaringan agrikultur, industri kopi bergantung pada pekerja wanita di seluruh dunia, ironisnya meski mengalami ketidaksetaraan dan diskriminasi, produksi kopi tetap berjalan berkat tangan-tangan para wanita di perkebunan. Mereka adalah ‘pemeran utama’ yang menentukan kualitas kopi yang akan kita nikmati. Tangan-tangan mereka-lah yang memilih buah kopi matang di pohon hingga menyortir biji kopi dalam proses pembuatan kopi.

Menarik bila melihat besarnya peranan kaum wanita dalam membesarkan citra kopi dan di tangan mereka-lah, kita sebagai penikmat kopi dapat mengapresiasi minuman kehitaman ini. Supaya para wanita dapat memaksimalkan potensinya, ada baiknya banyak perkebunan kopi mulai menyetarakan dan menghapus diskriminasi yang dialami para wanita di belakang layar produksi kopi. Lewat pelatihan dan seminar yang membuka wawasan, para wanita bisa memberikan kontribusi positif yang lebih besar, terutama dalam produksi kopi.

Semakin banyak kontribusi dalam produksi kopi semakin baik. Hal ini dapat berpengaruh pada makin besarnya apresiasi kopi terutama kopi Nusantara di dunia.