Ketika Barrack Obama melakukan selfie yang tak pada tempatnya dunia heboh. Dianggap tidak etis berfoto ala selfie dengan David Cameron dan Helle Thorning Schmidt pada acara yang sakral pemakaman pemimpin besar dunia Nelson Mandela. Pro dan kontra terhadap ulah pemimpin negara besar Amerika Serikat, Jerman Barat dan Inggris Raya ini menyeruak. Disatu sisi menganggap kelakuan mereka tidak etis, kurang pada tempatnya dan norak. Tapi di sisi yang lain ada yang menganggap kelakuan mereka sebagai hal yang manusiawi, bahwa di tengah-tengah tugas berat kenegaraan mereka adalah individu biasa saja yang ingin juga berfoto sebagai individu yang justru keluar dari formalitas kenegaraan.

Pro dan kontra Obama “selfie” menurut saya menarik. Seabreg opini dan diskursus di media digital berkembang. Lalu apa yang bisa dipetik dari gejala “selfie” ini. Apakah akan menjadi tren cepat lewat atau memang ini sebuah fenomena budaya?

SHORT MEMORY CULTURE

Kita ini dihinggapi sebuah pola ingatan pendek. Saya jadi teringat PECHAKUCHA, suatu cara presentasi berupa slide yang memuat kata-kata sangat pendek. Karena memang kita seperti tak sanggup lagi menangkap hal-hal yang panjang. Budaya twitter, path, instagram dan pinterest seperti menggiring kita pada pola berpikir seperti ini. Serba singkat-serba instant-serba visual dan WOW!

Gejala ini mau tidak mau merasuk di alam tak sadar manusia kontemporer. Pamer adalah sebuah kebutuhan. Mengekspresikan diri seketika adalah sebuah kewajaran. Dunia digital seperti memberi begitu banyak ruang pamer. Budaya pamer adalah sah. Pamer bisa bermakna “mamer” yang hedonis atau “sharing” yang bermanfaat. Tergantung bagaimana kita meletakkan diri kita di dunia yang dihinggapi Short Memory Culture ini.

TOO MUCH CHOICES. MORE IS LESS

Semua orang dengan munculnya kultur pamer atau sharing ini seperti berlomba-lomba menjejalkan pesan yang sifatnya NARCISSISM. Konsekwensi logis dari semakin banyaknya pilihan. Pilihan produk, karena semua orang berdaya untuk menjajakan lewat sosial media. Pilihan visual, karena setiap hari orang mengirim gambarnya di ruang publik. Pilihan tema atau kategori yang diproduksi oleh publik itu sendiri.

Kalau kita berbicara “selfie” sebut saja :

Fashionista Selfie; tak dapat dipungkiri fenomena ini merubah peta dunia fashion. Betapa tidak? Fashion ikut ditentukan oleh para “selfie” bukan oleh pengamat fashion atau fashion designer lagi. Derasnya tren yang bisa diukur secara data statiistik digital tentu tak dapat diabaikan begitu saja.

Animal Selfie; suka tak suka binatang menjadi pesona yang cukup di dunia ini. Sebagai obyek yang menghibur di tengah penatnya kehidupan dunia.

Dangereous Selfie; sharing pengalaman bahaya ke uang publik adalah sebuah ekspresi yang paling seru walaupun membahayakan. Lari dikejar banteng sambil memegang gadget, naik parasit sambil mejeng di kamera atau menyetir mobil sambil memotret speedometer dengan kecepatan maksimal. Gila!

Naughty Selfie; tak terbendung inilah yang selalu ramai orang memasang gambar agak sexy sampai sangat sexy. Dan tak heran banyak orang yang akan berkunjung.

Dan entah model “selfie” apa lagi yang akan diproduksi oleh publik.
Paham konteks dan membuat konten yang baik adalah cara yang tepat menyikapi jaman ini. Belilah tongkat narsis jika ingin membelinya, tak perlu malu. Saya jadi teringat ketika saya mengajak sahabat saya Peki, penggagas brand TONGSIS yang menghebohkan itu berjualan di sebuah bazaar di sebuah mall. Saya perhatikan setiap ibu-ibu muda yang lewat di booth pasti tertawa. Dan saya hampir bisa membaca pikiran ibu-ibu itu : “saya pengen beli deh”. Yuk kenapa tidak kita menjadi narsis. Menjadi “selfie”. Lakukan dengan baik.

THINK POSITIVE

Saya pribadi merasa kita tak perlu anti “selfie”, karena kita memang harus sharing sesuatu. Jika kita tak mengirim pesan visual kita akan diserang secara visual dan kita tak bisa menghindar. Yang bisa kita lakukan adalah memaknai secara baik fenomena ini.