Bisa tebak apa kesamaan Mark Zuckerberg dan Steve Jobs selain mereka adalah wirausahawan yang mengubah dunia? Yak, mereka sama-sama nggak lulus sekolah atau drop out dari bangku kuliah. Begitu juga yang dilakukan oleh Thomas Jefferson dan John D. Rockefeller yang menempuh pengalaman serupa. Kenapa ya?

Ada 3 kemungkinan yang menyebabkan mereka memutuskan untuk nggak namatin pendidikannya. Antara lain:

Budaya sekolah yang nggak kondusif untuk memupuk bakat wirausaha yang mereka miliki. Dalam sekolah konvensional, murid hadir di kelas, mendengarkan guru, dan membaca buku sepanjang hari. Mereka dituntut untuk memahami konsep atau teori yang diajarkan. Memang nggak salah mengasah diri untuk memahami teori karena itu juga dibutuhkan saat seseorang memutuskan untuk menjadi wirausaha. Namun, bagi wirausahawan, belajar teori lebih efektif bila dilakukan bersamaan dengan praktik.

Selain itu, salah satu hal yang membuat wirausahawan bisa sukses besar adalah kreativitas yang mereka miliki. Banyak yang beranggapan bahwa kreativitas datangnya dari rasa penasaran, tapi ada juga teori yang beranggapan bahwa kreativitas justru datang karena rasa malas. Sering denger kan pepatah “Work smart, not hard”. Pepatah inilah yang menjadi acuan bagi banyak wirausahawan, dengan bekerja lebih pintar, mereka bisa menjadi inovatif dan malas pada saat yang sama. Di sekolah, meski murid-muridnya diajarkan tentang inovasi biasanya terjadi dengan proses yang lebih lama dan mengedepankan kerja keras, misalnya dengan menggunakan partisipasi sebagai salah satu penentu nilai siswa.

Faktor terakhir yang bikin para wirausahawan ini nggak begitu hebat dari sisi akademis adalah individualisme. Setiap institusi pembelajaran memiliki konteks sosial yang menentukan siapa yang keren dan populer. Namun, sejak kapan sesuatu yang ikut arus jadi sesuatu yang bisa mengubah dunia? Perubahan besar datang dari tindakan yang berlawanan dengan mainstream dan sesuatu yang kontra tersebut datang dari orang-orang yang individualis.