Bramantya Farid Prakosa atau akrab dipanggil Bram, lahir dan besar di Bontang, Kalimantan Timur. Jiwa wirausahanya datang dari darah sang ayah, Hindrawan Hartono. Meskipun sejak kecil punya cita-cita lain selain pengusaha, “Sejak kecil, ayah justru menggiring kami untuk berwirausaha,” tutur Bram. 

Atas dorongan sang ayah juga, Bram dan kakaknya, Elmita Fertiani, aktif mengikuti berbagai seminar kewirausahaan di kala senggang. Dari situlah, jiwa wirausaha pun terpupuk dalam diri Bram sampai akhirnya mencoba dunia usaha ketika melihat ada peluang membuka warung internet (warnet) di lingkungan kampus Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. “Kebetulan, saya juga gemar mengutak-atik internet,” kata Bram yang saat itu mengenyam pendidikan Sastra Inggris.

Bisnis warnetnya sendiri ia dirikan di dua lokasi dengan kapasitas total 18 kubikel. Modal awalnya adalah dari pinjaman orangtua sebesar Rp 100 juta. Sambil merintis usaha warnet, Bram juga mengambil kursus internet marketing. Ternyata, kursus ini  membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sampai akhirnya ia terbelit utang ke perbankan sebesar Rp 80 juta.

Bramantya-Farid-Prakosa

Dari situ Bram belajar bahwa keuntungan berbisnis warnet tidak bisa menutup angsuran pembayaran modal ke orangtua. Ia pun lantas memutar otak, mencari usaha lain yang bisa menjadi sumber pemasukannya. Sampai pada satu kesempatan ia mendapatkan ide untuk membuat jaket dengan tema Jepang dan Korea. “Saya lihat model itu cukup banyak peminatnya,” kata dia.

Dari tabungan yang tersisa, dia pun membangun usaha patungan jaket di Bandung bersama temannya yang sudah berpengalaman di bisnis konveksi. Bram memasarkan produknya melalui online di alamat www.jfleece.com dan mendaftarkan usahanya ini di bawah bendera CV Macro Seven. Pada pertengahan 2010, Bram mulai menuai hasil dari usaha pembuatan jaket.

Sambil berbisnis jaket, Bram juga menawarkan jasa sebagai online marketer melalui jasa search engine optimization atau SEO. Ini semua dilakukannya untuk membayar utang, baik kepada orangtua dan bank. “Kalau tidak ada banyak utang itu, mungkin saya tidak terpacu untuk bekerja lebih keras,” katanya.

Dari jasa SEO ini, Bram bisa menerima pendapatan mulai dari Rp 3 juta hingga jumlah tak terhingga. Tidak sampai di situ, karena mudah merasa tertantang, dia ingin mempercantik portofolionya sebagai seorang online marketer, Bram pun menjajal mengikuti perlombaan SEO yang diadakan oleh MercedeZ Benz di Indonesia pada tahun 2011 dan mendapatkan juara pertama.  Di tahun yang sama, ia juga mengikuti perlombaan sejenis ketika diselenggarakan oleh Acer, dan juga lolos sebagai juara pertama. Bukan hanya di Indonesia, Bram pun menguji kemampuannya untuk ikut kontes SEO tingkat internasional. Ia kembali menjadi juara pertama pada kontes yang diselenggarakan oleh perusahaan perhiasan, Shiree Odiz, yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

Pada tahun 2012 ia membuka sekolah SEO sebagai bentuk apresiasi agar bidang ini semakin diminati publik, dibukalah www.seoacademy.com. Kini jumlah member yang aktif berkonsultasi SEO dengannya sudah mencapai 500 orang. “Biaya member-nya gak mahal kok, cukup Rp 1,5 juta untuk setahun,” tutur Bram seraya berpromosi.

Tidak berhenti sampai di situ, Bram pun terus menggagas usaha baru. Apalagi ayahnya sudah pensiun, mau tidak mau ia juga berperan sebagai penopang perekonomian keluarganya. Dia kemudian berkongsi dengan seorang temannya yang berdomisili di Vietnam, menjual software untuk SEO. “Software tersebut kami ciptakan sesuai kebutuhan klien kami masing-masing,” terang Bram.

Dengan multi bisnis yang sudah berjalan selama lima tahun, Bram bisa membukukan omzet hingga ratusan juta. Ke depan, Bram ingin memanfaatkan ilmunya dalam SEO. Bersama timnya, ia menyiapkan sebuah social networking khusus untuk para traveller.

 

Sumber:
Kontan