Sering kita dengar kata outsourcing, awamnya sih yang kita tahu para pekerja outsourcing ini adalah pekerja kontrak yang kecil kemungkinannya dijadikan pegawai tetap. Meski terdengar tidak menyenangkan, banyak yang bekerja sebagai pekerja outsourcing karena kurangnya lapangan pekerjaan.

Sebagai wirausahawan atau yang tengah merintis jalan pastinya akan bersimpangan dengan kebutuhan dan penyediaan tenaga kerja. Outsourcing suka menjadi pilihan untuk mendapatkan tenaga kerja ‘yang tidak mengikat’, namun adilkah?

Untuk menilainya, ayo kenali outsourcing lebih jauh!

Para pekerja outsourcing mengalami proses perekrutan kerja layaknya pekerja tetap. Mereka tetap mengirimkan data diri, tes tertulis, psikotest, hingga wawancara. Yang berbeda adalah siapa yang merekrut mereka. Bila pegawai tetap direkrut oleh perusahaannya secara langsung, pekerja outsource harus melalui Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja (PPJP). Perusahaan inti bisa juga langsung mempekerjakan mereka, hanya saja dilakukan dalam jangka waktu tertentu (kontrak).

Posisi yang ditawarkan biasanya tidak berhubungan langsung dengan operasional bisnis, misalnya sebagai customer service, cleaning service, office boy, security, dan lainnya. Pembatasan ini bukannya tanpa sebab, karena memang diatur dalam undang-undang.

Gaji diberikan oleh penyedia jasa tenaga outsource. Biasanya juga, para pekerja outsource tidak menerima gaji penuh, melainkan sudah dipotong oleh penyedia jasa sebagai biaya jasa.

Jenjang karirnya tidak menjanjikan. Karena bekerja berdasarkan kontrak, selama jasa pekerja outsource masih dirasa perlu, maka kontrak mereka akan diperpanjang. Namun, ada juga yang diangkat menjadi pegawai tetap karena memiliki kinerja dan keahlian yang baik.

Tentunya kamu bisa menilai sendiri bagaimana sistem outsource bila dipandang dari kacamata wirausahawan. Apakah kamu termasuk yang pro atau yang kontra?