Rokok seringkali menjadi polemik dalam kehidupan sehari-hari, ada yang suka ada yang tidak. Namun, terlepas dari itu semua, tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan rokok telah mengakar dalam budaya Indonesia, di tambah lagi banyaknya serapan tenaga kerja yang besar dalam industri ini.

Di Kudus, daerah yang akrab dengan penghasil rokoknya, jauh sebelum lahirnya brand rokok raksasa ternama yang kita kenal, ada sejarah yang lekat dengan terciptanya rokok kretek.

Bantaran Kali Gelis, satu sungai utama di Kota Kudus merupakan saksi sejarah panjang tentang dunia kretek Indonesia. Di dekat kios-kios itu, terdapat toko tekstil Fahrida yang cukup dikenal di Kudus. Dulu, istri Nitisemito menjual lintingan tembakau dan cengkeh. Nitisemito sendiri adalah raja kretek Kudus yang melegenda.

Sebelum sukses dengan rokok kreteknya yang melegenda – Tjap Bal Tiga, ia sudah berulang kali gagal berbisnis. Sempat merantau ke Malang, hingga akhirnya menetap di Kudus.

u

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terlahir sebagai anak Kepala Desa, Nitisemito yang memiliki nama kecil Roesdi Bin Soelaiman memiliki kepribadian yang pemberani dan kuat. Beliau menolak permintaan ayahnya untuk bersekolah agar bisa melanjutkan kedudukannya. Ia lebih memilih menjadi pedagang dan pada usia 17 tahun Roesdi memutuskan itulah saatnya beliau untuk memulai langkahnya sebagai pengusaha.

Tidak bisa baca-tulis tidak mematahkan semangatnya, beliau memutuskan untuk merantau ke Kota Malang yang menjadi salah satu destinasi orang Kudus untuk merantau dan menjadi buruh jahit. Tak lama, beliau memiliki usaha konveksi sendiri yang terbilang sukses, tapi beliau merasa tidak bisa banyak mengalami kemajuan karena persaingan yang ketat. Alhasil, beliau memutuskan kembali ke Kudus.

Di Kudus, beliau mencoba membuat usaha macam-macam, mulai dari penjualan minyak kelapa, jual beli kerbau, pengusaha dokar, membuka toko dan sebagainya. Saat itu beliau dijodohkan dengan Nasilah yang dimintanya untuk menjaga toko. Dari pernikahan tersebut, Roesdi yang telah berganti nama menjadi Nitisemito mendapatkan ide untuk mengembangkan perdagangan tembakau yang mereka lakukan menjadi sebuah bisnis yang memiliki nilai tambah.

Kretek Tjap Tiga Bal sendiri mulai digunakan pada tahun 1906 setelah Nitisemito berganti-ganti nama untuk mengukuhkan produknya. Setelah pakem dengan nama ini, Tjap Tiga Bal sah terdaftar di Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908. Di kemudian hari, usaha rokok kretek tersebut akhirnya membuat nama Nitisemito menjadi salah satu legenda pengusaha pribumi terbesar di Indonesia.

Sang Raja, sebuah buku persembahan Iksaka Banu, membahas hidup Nitisemito dan perkembangan Kretek Tjap Tiga Bal dari sudut pandang dua orang karyawannya, Wirosoeseno, Jawa tulen, seorang karyawan bagian pemasaran dan promosi dan Filipus Rechterhand, Belanda totok, yang menjadi akuntan perusahaan milik Nitisemito ini.

Lewat Sang Raja, kita diajak untuk melihat tumbuh, makmur dan jatuhnya sebuah perusahaan rokok kretek terbesar di awal 1900-an, yang melintasi 3 jaman pemerintahan.