MEREK salah satu aset tak berwujud yang dimiliki perusahaan. Tapi, merek bukan sekadar simbol atau slogan. Merek juga menjadi bagian penting perusahaan yang harus dikelola dengan baik agar mendatangkan keuntungan.

Merek bisa membedakan dan menciptakan makna terhadap pelanggan, termasuk karyawan. Karena itu, merek harus dikelola dengan baik dalam lingkungan pemasaran. Ini menjadi sebuah tantangan, bagaimana perusahaan bisa menuai keuntungan dari merek yang kuat. Tak pelak, pemasaran merupakan ujung tombak sebuah perusahaan. Kemampuan penetrasi pasar menjadi sebuah harga mati agar perusahaan tersebut bisa bertahan.

Setidaknya itulah yang disampaikan pakar branding dunia, Kevin Lane Keller, di acara seminar bertajuk ”How To Build Great, Powerful, and Profitable Brands” di Hotel Mulia. Seminar ini bagian dari acara Indonesia Brand Summit 2014. Keller menyampaikan, ada empat komponen untuk membuat posisi perusahaan menjadi superior yang kompetitif di pasar yakni bagaimana perusahaan mendefinisikan referensi pandangan yang kompetitif, mengembangkan merek yang unik, membangun berbagai poin dari merek, dan menciptakan mantra merek (brand mantra).

”Brand memiliki tiga kriteria yakni mampu mengomunikasikan dengan baik untuk membantu mendefinisikan kategori produk, simpel, dan efektif karena mudah diingat serta menginspirasi,” kata Keller.

Keller mencontohkan, tiga merek besar yang sangat dikenal berkat mantra merek yakni Nike, Disney, dan American Express. Nike dikenal dengan mantra mereka autentik, atletik, dan performa. Sementara Disney memberikan brand yang berbeda dari tempat-tempat hiburan lain di dunia. ”Brand mantranya Disney yang fun family entertainment mampu membuat mereka mendeskripsikan bahwa mereka sangat menyenangkan,” ucap Keller.

Sedang American Express, menurut Keller, juga menuai sukses yang sama dengan mantra merek ”Worldclass Service, Personal Recognition” yang selalu memberikan pelayanan istimewa kepada para pelanggan.

Tak pelak, berbagai petuah yang disampaikan Keller menjadi perhatian para praktisi pemasaran. Mereka tak boleh lengah menghadapi persaingan yang semakin ketat. Lengah sedikit saja, kompetitor bakal menyalip. Tak menutup kemungkinan entitas brandyang selama ini dibangun bakal ditinggal konsumen.

Kehadiran Keller sangat ditunggu-tunggu karena sudah tujuh tahun lebih sebenarnya dia berencana datang ke Indonesia. Menurut Rahmat Susanta, Direktur Marketing Group, kedatangan Keller ke Indonesia sangat berarti karena dia pakar brand paling ternama saat ini. Kerangka pemikirannya, Customer Based Brand Equity, merupakan pengukuran merek yang paling banyak dipakai.

”Kehebatan Keller dengan konsep Customer Based Brand Equity (CBBE) menurut saya menciptakan kerangka kerja yang baik dan sistematis bagi pemasar dalam membangun merek,” ungkap Rahmat.

Hal yang tak jauh berbeda disampaikan CEO Frontier Consulting Group Handi Irawan. Menurut dia, pemikiran Keller yang disampaikan dalam seminar sangat bergunabagi para pelakupemasaran di Indonesia. Dia juga mengingatkan sejumlah hal mendasar dalam mengelola dan membesarkan brand.

”Sejauh mana misalnya jingle yang dibuat untuk sebuah produk bisa disukai masyarakat,” kata Handi.

Sementara tentang image, para pemasar harus bisa menunjukkan keuntungan (benefit) dan nilai (value) yang bisa diperoleh dari konsumen jika mengonsumsi sebuah produk. Keuntungan dan nilai bisa berupa emosional dan fungsional. Benefit dan value yang emosional misalnya ditawarkan produk fashiondan kosmetik. Para konsumen diharapkan mempunyai kebanggaan jika menggunakan produk tersebut.

”Sementara benefit fungsional misalnya ada di produk obat-obatan. Sejauh mana fungsi obat tersebut untuk menyembuhkan penyakit,” kata Handi.

Semua upaya itu diharapkan bisa menghadirkan loyalitas kepada brand.Sebuah brand yang kuat akan menjaga para konsumen untuk memakai sebuah produk tanpa mudah terpengaruh produk lain. Loyalitas padabrand tentu sangat berpengaruh pada penjualan sebuah produk.

 

sumber: KORAN SINDO