Seberapa seringkah kamu tahu bahwa banyak brand besar yang memilih untuk membeli brand yang lebih kecil?

Konsumen sering berasumsi kenapa brand besar melakukan ini dan sebagian besar mengira bahwa brand besar ‘takut’ bila brand yang lebih kecil ini bisa tumbuh menjadi lebih besar dan mengancam eksistensi brand besar. Nggak salah juga, tapi tentunya brand besar punya beberapa pertimbangan daripada sekadar takut bersaing.

Hal ini bisa menjadi peluang sebenarnya bagi brand-brand lokal di Indonesia untuk dilirik oleh brand besar. Seperti yang disoroti oleh founder do.inc Handoko Hendroyono:

“Baru sekarang-sekarang ini saya melihat brand mapan atau brand besar justru looked up brand “kecil” yang solid. Ini terjadi di belahan dunia mana pun. Di kopi tak bisa dibayangkan sebelumnya Nestle membeli Bluebottle atau Coca-Cola Company membeli Costa. Ini bukti bahwa bukan yang besar yang berdaya.
Kita di Indonesia yang penuh potensi ini jangan hanya menjadi penonton saja. Yuk kita giat melakukan sesuatu yang memang sangat terbuka kemungkinannya.”

br

Untuk tahu kenapa brand besar membeli brand kecil, cek yuk apa saja yang jadi pertimbangan mereka:

Inovasi: brand besar suka menengok brand kecil untuk memberikan inovasi. Brand besar memiliki kecenderungan untuk jalan di tempat, terutama saat brand mereka sudah cukup berumur. Brand besar butuh regenerasi pasar yang biasanya lebih ngena dengan strategi/inovasi yang diciptakan oleh brand-brand kecil.

Keberlanjutan: brand kecil mengukur keberlanjutan mereka sejak awal penciptaannya, sehingga bisa membantu brand besar melihat apa yang bisa diubah untuk meningkatkan keberlanjutan di beberapa aspek operasinya, mulai dari penghematan energi, penyewaan lahan, dan karyawan.

Tanggung jawab perusahaan: saat ini, banyak konsumen yang tidak mau membeli produk yang tidak mereka percayai. Konsumen ingin bukan hanya apa yang ia beli memiliki kualitas baik, tapi mereka juga ingin merasakan hal baik yang diberikan oleh brand kepada masyarakat. Saat brand besar membeli brand kecil dengan reputasi baik, maka reputasi tersebut bisa menular pada brand besar tersebut.

Efisiensi: brand kecil biasanya sudah memikirkan efisiensi terutama bila mereka tidak memiliki banyak modal untuk digunakan. Mulai dari metode distribusi alternatif, sistem marketing yang tidak menghabiskan banyak uang dan sebagainya. Kemampuan efisiensi dari brand kecil ini bisa menjadi ide bagi brand besar untuk ikut mengadaptasinya.

Interaksi dengan pelanggan: brand kecil terasa lebih dekat dengan konsumennya. Karena ‘kecil’ tersebut konsumen jadi merasa bisa terhubung untuk mengenal brand, sejarah, dan siapa saja di belakang brand kecil tersebut. Melalui sosmed dan branding yang akrab, brand kecil menjadi ahli untuk melibatkan konsumen dan menciptakan pengikut yang loyal. Kesemuanya bisa didapatkan oleh brand besar bila mereka melakukan akuisisi terhadap brand kecil yang memiliki engagement positif dengan pengikutnya.