Seni berwirausaha sejatinya adalah gabungan dari keahlian perhitungan, kemampuan untuk bernegosiasi dan berkompromi, kemampuan untuk mengelola secara makro dan mikro, juga kemampuan otak untuk menghasilkan ide-ide brilian untuk memformulasikan dan memastikan kelangsungan bisnis. Keseluruhan keahlian tersebut kebanyakan tidak didapatkan dari pendidikan formal, alias kita harus mengembangkannya sendiri.

Berikut adalah beberapa jenis keahlian yang tergolong softskill ini bisa kita kembangkan untuk mendukung kegiatan kita dalam berwirausaha dan berinteraksi dengan pelanggan dan mitra:

Keahlian untuk menjadi diri sendiri. Meski terdengar umum ‘be yourself’ adalah sebuah saran yang tergolong paling sulit dilakukan. Biasanya orang yang sudah nyaman dengan diri sendiri akan lebih mudah diingat dibandingkan mereka yang ‘meminjam’ personality pada orang lain. Dengan menjadi diri sendiri, orang lain akan mengenal siapa kamu sesungguhnya dan tidak ragu untuk bekerja sama.

Keahlian tawar menawar. Keahlian ini bisa membuatmu dipandang sebagai seseorang yang jago bernegosiasi. Kemampuan ini bukan cuma berguna saat kamu belanja ke pasar, tapi saat mempresentasikan ide di depan banyak orang. Kemampuan ini juga membuatmu lebih percaya diri dan tenang, sehingga orang yang melihat bisa lebih mudah percaya.

Keahlian untuk mencairkan suasana. Pernah nggak, ketika akan mempresentasikan proposal bisnis, suasananya antara kamu dan calon investor terasa kaku? Itu tandanya kamu perlu mengembangkan keahlian yang bisa membuat orang yang bersamamu merasa nyaman dan terbuka. Keahlian ini mengeliminasi batas formalitas dan membuat semuanya menjadi akrab, siapa tahu dari partnership bisa berkembang menjadi teman jangka panjang yang bisa memuluskan rencana suksesmu.

Keahlian mendengar. Apa kamu tergolong orang yang bicara non-stop tanpa membiarkan lawan bicaramu menimpali dan memaparkan idenya? Mulai sekarang ubah kebiasaan itu. Kembangkan kemampuan mendengarmu agar orang yang bersamamu merasa dihargai. Dengarkan masukan dan jangan langsung bantah dan memaksakan pendapatmu. Kamu bisa mendapatkan pengalaman dan masukan berharga untuk kelangsungan bisnismu.

Keahlian untuk mengendalikan emosi. Ketika proposal untuk bisnis yang sudah semalaman dipersiapkan ditolak begitu saja oleh calon investor memang bikin keki. Namun, kamu harus tetap menunjukkan profesionalitasmu dengan menahan emosi. Pribadi yang mampu mengendalikan emosi dinilai mampu berkompromi dan menyikapi permasalahan dengan bijak. Mempertunjukkan emosi yang meledak-ledak menunjukkan betapa tidak profesionalnya kamu dan bisa mengurungkan calon investor tersebut untuk bekerja sama di masa depan.