Adalah hidup orang kreatif yang bisa sekali hantam proyek bisa jebret sewa apartemen setahun tunai , lanjut dapat job jadi pembicara idola para millenials, menjadi media darling , lalu diajak selfie bareng fans di pameran. Persis sinetron kan? Bukannya tidak disadari bahwa itu adalah panggung the- next-stop-reality-show yang ambigu namun adakah waktu dihabiskan untuk jalan-jalan ke toko buku mencari referensi dalam menggambar sketch dari user persona pengguna busway, menulis puisi yang bisa bergetar saat smartphone kehabisan baterai, atau menemukan produk radikal yang bisa menghancurkan gaya hidup para millenials.

“Terkenal itu resiko, bukan tujuan!” — Alm. Remy Soetansyah

Jadi musti bagaimana agar bisa disebut benar-benar orang kreatif yang mempunyai tujuan? Seduh wearable devices sebagai trigger untuk tepat mengambil keputusan. Dengarkan derap panggilan hati selama ini yang fade-out makin keras makin sunyi karena selalu ada rahasia dibalik hal yang bisa bikin jantung berdegup kencang tapi bunyinya kosong. Seperti halnya ada rahasia dibalik cerita seorang teman yang sukses mengembangkan produk laris dipasaran namun masih bisa menolak saat diberi cheque kosong untuk diisi semaunya. Cheque yang bisa bikin seseorang berburu binatang sendiri sebagai santapan exotic main course makan malamnya.

Ada banyak ide yang bunyinya keren dan kreatif namun berongga bullshit. Tersesat, tak bermakna, lemah, pun kosong. Hasil dari orang kreatif yang kurang mendengarkan sehingga lumpuh imajinasinya. Pergi dong ke perpustakaan berburu buku-buku bukan ebooks lalu duduk menyendok asam-manis halaman demi halaman ladang imajinasi, kebenaran, cinta, harga diri, dan farm-tools lain yang selama ini diabaikan banyak selebtwit yang lebih mementingkan exit dengan selfie memegang tongsis. Mana lebih bergema?

 

Penulis:
Iboy Imanzah , copartner MakeDoNia Makerspace