Bermula dari hobi, Nadya Saib mengembangkan bisnis sabun natural dengan nama Wangsa Jelita (WJ). Bersama kedua temannya, Fitria Muftizal dan Amirah Alkaffmereka memulai dengan tiga formula sabun yang kemudian berkembang karena respons pasar yang bagus. Untuk pemasaran awal, Nadya menyebarkannya melalui lingkup keluarga dan jaringan pertemanan. “Dari sana, kami mengenal istilah reseller karena kami membutuhkan orang yang bisa menceritakan mengapa sabun natural yang kami hasilkan memiliki nilai tambah dibanding sabun lainnya,” tutur dara kelahiran Balikpapan 16 Maret 1987, yang di WJ bertindak sebagai direktur.

Nadya Saib Dan Wangsa JelitaSejak memenangkan Community Entrepreneur Challenge yang diadakan British Council pada 2010, Nadya lebih fokus bekerja sama dengan kelompok petani mawar dalam menghasilkan sabun natural mawar. Sebagai hadiahnya, Nadya menerima bantuan modal sebesar Rp 100 juta untuk mengembangkan usaha WJ. Bantuan ini digunakannya untuk pelatihan petani, persiapan pemasaran, juga operasional.

WJ yang awalnya sebuah bisnis murni menjadi bisnis sosial yang mengangkat komunitas. Dengan dukungan British Council dan bantuan dari Arthur Guinness Fund, Nadya dan tim WJ memberikan pelatihan untuk komunitas petani mawar di Lembang. Mereka merintis perdagangan yang adil bagi petani mawar.

“Kami berharap mereka bisa menjalankan bisnis mereka sendiri di masa mendatang,” ucap Nadya yang baru saja mengikuti Project Inspire – 5 Minutes to Change the World, kompetisi yang diselenggarakan oleh UN Women dan MasterCard dalam pemberdayaan wanita.

Menurut Nadya, belakangan banyak permintaan untuk membuat suvenir berupa sabun natural. Bekerja sama dengan perajin lokal, WJ pun menyiapkan kemasan sesuai dengan keinginan pelanggan. “Dibanding dulu, sekarang penjualan meningkat hingga lima kali lipat, bahkan permintaan melebihi kapasitas produksi kami,” ungkap Nadya yang menjadi delegasi Indonesia pada Asia Youth Summit yang diselenggarakan oleh Global Changesakers-British Council 2011.

Berbeda dengan sabun biasa, sabun natural WJ tidak mengandung deterjen, dan tidak menyebabkan kulit kering. Sebaliknya, bisa melembutkan kulit. Selain itu, busa yang dihasikan tidak merusak lingkungan. Berawal dari sabun kastil yang 100 persen zaitun, mereka kini mengembangkan sabun yang menggunakan ekstrak teh hijau, kunyit, apel, dan belakangan ini mawar. Untuk yang terakhir ini, mereka bekerja sama dengan petani bunga mawar di Lembang, Kabupaten Bandung.

Untuk bunga mawar, Nadya hanya mengambil aromanya. Dari penelitian lanjutan, air mawar ternyata bisa digunakan untuk formula sabun. Nadya kembali mendatangi petani mawar yang jumlahnya sekitar 25-an orang, sambil membawa sabun natural berbahan mawar. “Saya jelaskan, bunga mawar bisa punya nilai ekonomis tinggi. Caranya dengan menjadikannya bahan sabun. Saya sampaikan, dengan penghasilan yang bagus, mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya,” katanya.

 

Sumber:

SWA
Kompas