Setelah kemarin kita membahas kiat-kiat memulai sociopreneur. Sekarang ada tiga anak muda lulusan sekolah di Amerika Serikat yang terlibat dalam aksi ini. Latar belakang pendidikan mereka tidak membuat ketiganya lupa akan heritage mereka.

Valery Moniaga, Adam Mulyadi, dan Michelle Chandra mendapat ide untuk merintis bisnis pakaian dengan memproduksi baju untuk sekolah-sekolah semacam taman kanak-kanak dan kelompok bermain di penghujing tahun 2012 yang lalu. Hal ini dilakukan untuk merintis proyek lainnya yaitu Celengan.

734567_505414132834105_1955738832_n

Mereka mendeskripsikan celengan sebagai merek usaha fesyen yang bergerak di bidang medium merchandise dan apparel. Logo yang mereka rancang menyerupai bentuk hati dan celengan ayam, dengan dominasi warna merah putih yang kini telah berkembang dengan berbagai warna dan motif.

Logo untuk Tshirt Celengan tipe batik juga menggunakan kain batik asli yang dijahit pada pinggirannya, bukan sekedar ditempel.

Kreativitas dan kendali kualitas produk tim tersebut ternyata disambut cukup baik oleh masyarakat. Kini, tim Celengan sudah berhasil menjual lebih dari 1.000 potong tshirt, baik melalui penjualan secara online, sekitar 10 reseller, maupun 3-4 konsinyasi.

Dalam sebulan produk Celengan bisa terjual sekitar 300-400 potong. Menurut Valery penjualan terbanyak datang dari media online, yang minimalnya bisa mencapai 200 potong. Karena itulah mereka intens memasarkan produk via media sosial seperti Instagram.

860627_498535763521942_845442523_o

Dalam hal ini, social entrepreneurship berusaha meningkatkan kesetaraan perekonomian dalam masyarakat, sehingga diharapkan dapat membantu peran pemerintah dalam usahanya mengurangi angka kemiskinan maupun kesenjangan sosial yang semakin besar dalam masyarakat kita.

Valery, Adam, dan Michelle menerapkan konsep ini dengan cara menyisihkan 15% dari hasil penjualan mereka selama tiga bulan untuk kegiatan sosial. Mereka memilih panti asuhan yatim piatu yang ada di Jakarta.

“Kami selalu mendokumentasikan acara bakti sosial kami, lengkap dengan rincian dana yang digunakan. supaya masyarakat percaya terhadap apa yang kami lakukan,” terang Valery. Total donasi yang sudah diberikan hingga saat ini mencapai Rp13,02 juta.

Ke depannya, mereka ingin bekerjasama dengan satu panti asuhan secara khusus, sehingga bantuan yang diberikan dapat lebih berkelanjutan seperti menyekolahkan anak-anak tersebut.

Punya ide inspiratif mengenai produk yang bisa dijadikan proyek sociopreneur? Share sekarang juga dengan komentar di bawah ini!