p21Chris.img_assist_custom-510x357

Tidak ada pencapaian yang berhasil diraih tanpa usaha. Begitu pula yang dialami oleh Chris Lie, komikus ternama yang awalnya tidak diizinkan menjadi komikus oleh kedua orangtuanya karena dianggap tidak bergelimpahan materi. Meskipun orangtua Chris Lie tidak menghendaki profesi tersebut, ia tetap mengambil kuliah yang masih berhubungan dengan menggambar, yaitu teknik arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) dan menyelesaikan kuliahnya untuk menjadi komikus kelas internasional.

Pada tahun 2013 lalu, Chris Lie mendapatkan beasiswa Fullbright untuk meneruskan S2 di bidang Sequential  Art di Savannah College of Arts and Design, Amerika Serikat. Chris yang terlibat dalam pembuatan “action figure” GI Joe dan juga ilustrasi film waralaba itu mengatakan, “Semasa kuliah, saya magang di perusahaan ternama, Devils Due Publishing. Awalnya pekerjaannya hanya fotokopi dan kirim paket,
tapi lama-lama mereka percaya.”

Selain dipercaya membuat rancangan “games” Star Wars dan Lord of The Rings, Chris bersama temannya, Jake T Forbes, membuat komik Return to Labyrinth dan berhasil meraih New York Times Manga Best Seller dan bersaing dengan komik Naruto. Di luar negeri, karya-karya pria kelahiran 5 September 1974 yang cukup dikenal adalah GI Joe, Marvel Ultimate Alliance 2, cover dalam Street Fighter IV XBOX 360, dan lain sebagainya.

Pada tahun 2007 Chris memilih kembali ke Indonesia dan mendirikan studio komik bernama Caravan dengan modal Rp.150 juta. Karena Chris merasa prihatin atas mati surinya komik lokal, Chris dan teman-temannya menciptakan komik kompilasi re:On.

“Makna re:On yakni menghidupkan kembali semangat komik Indonesia,” jelasnya. Tidak adanya komik-komik yang dikembalikan ketika sudah disalurkan membuktikan bahwa respon masyarakat cukup baik. Komik yang dijual melalui retail minimarket dan sejumlah toko buku itu hadir sejak Juli 2013, terbit setiap 6 minggu sekali.

Tidak hanya itu saja, upaya Chris untuk “menghidupkan” semangat para komikus Indonesia ia tunjukkan lewat keterbukaannya untuk menerima karya dari para komikus di luar perusahaannya. Dengan demikian, para komikus muda mendapatkan penghasilan dan direstui menjadi komikus oleh orangtua mereka  karena mampu menghasilkan uang lewat hobi. Selain komik, Chris juga menjual produk turunan dari serial komik tersebut berupa kaos, kalender, buku foto, dan lainnya. Hal ini dibuat dengan harapan para komikus akan mendapatkan royalti dalam setiap penjualannya.

“Kedepannya, re:On berupaya untuk melebarkan sayap ke media lain seperti animasi, musik, dan game. Dengan demikian akan semakin mendekatkan re:On ke hati masyarakat,” kata Chris.

Hingga kini, Chris masih banyak menerima orderan dari luar negeri, terutama Amerika.  Beberapa proyek yang ia kerjakan antara lain berasal dari: Marvel, Hasbro, LEGO, dan Sony Online Entertainment. Dan, salah satu proyek (idealis) yang sedang ia kerjakan bersaa rekan-rekannya di Caravan Studio adalah serial komik pewayangan, Baratayudha.

Menarik, bukan? Anda memiliki kisah inspiratif lain atau justru Anda sudah mampu menginsiprasi orang lain? Sharing yuk!