“Lie, kalau kamu sudah jadi dokter, jangan memeras orang kecil. Mereka akan membayar berapa pun, tetapi diam-diam menangis di rumah karena tidak ada beras”. Itulah pesan ibu untuk seorang dokter rendah hati, dr. Lie Dharmawan, yang mengantarkan Lie menjadi dokter hebat dengan Rumah Sakit Apung-nya.

Lie+Dharmawan

Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan adalah sebuah program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat pra-sejahtera di pulau terpencil Indonesia yang sulit mendapatkan layanan medis karena kendala geografis dan finansial.

Meskipun banyak yang membutuhkan jasa rumah sakit apung, awal perjalanan dokter Lie dengan Rumah Sakit Apung tidaklah mudah. Karena konsep seperti rumah sakit apung ini baru ada di militer, itu pun hanya digunakan pada saat-saat tertentu ketika perang terjadi. Peresmian rumah sakit apung yang menghabiskan dana kurang lebih 3 miliyar ini dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, diantaranya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, perwakilan Kemenkokesra dan Kemenkes RI, perwakilan Komisi IX DPR RI, Walikota Jakarta Utara, dan perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia (IKABI).

RSA terdiri atas dua tingkat. Bagian dasar digunakan sebagai ruangan rotgen, elektrookardiogram (EKG), ultrasonografi (USG), serta laboratorium. Dan kamar bedah, ruang resusitasi, ruang dokter dan lainnya ada di tingkat atas. Selayaknya rumah sakit, RSA juga melakukan pelayanan kesehatan seperti pemeriksaan jantung, kehamilan, tumor, darah, rontgen, hingga pembedahan.

Dalam menjalankan operasional rumah sakit dokter Lie bekerjasama dengan rekan-rekan sejawatnya yang tergabung dalam DoctorSHARE, yang merupakan organisasi nirlaba di bidang kemanusiaan yang didirikan olehnya dan Lisa Suroso, sahabat dokter Lie. Organisasi yang memfokuskan diri pada pelayanan kesehatan medis dan bantuan manusia ini berdiri pada 19 November 2009 dengan menyasar pada masyarakat yang tidak mendapatkan akses kesehatan secara memadai.

Dalam pelayanan medisnya, dokter Lie tidak menarik biaya dari pasien karena kebanyakan dari mereka merupakan warga yang kurang mampu secara ekonomi. Salut!