Karangpatihanan, sebuah Desa di Ponorogo dengan tanah kapurnya yang  tandus dan gersang dijuluki sebagai “Kampung Idiot”. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2013, Desa Karangpatihanan dihuni oleh kurang lebih 1.752 Kepala Keluarga (KK) dengan total penduduk 5.745 jiwa, yang 290 diantaranya tergolong sangat miskin, 556 miskin, 590 mendekati miskin, dan 406 di atas miskin. Dan yang mengejutkan, terdapat kurang lebih 48 KK yang mempunyai anggota keluarga atau sekitar 98 orang penyandang tunagrahita atau down syndrome, dan mereka berusia 30-40 tahun.

2105461Eko-Mulyadi780x390

Dengan kondisi tanah yang sulit untuk ditumbuhi, singkong, ketela dan umbi-umbian sejenisnya lah bahan makanan yang dikonsumsi untuk dapat bertahan hidup. Untuk warga Desa Karangpatihanan, nasi adalah barang mewah, karena kebanyakan dari mereka menkonsumsi ketela dan nasi aking yang bisa tahan lebih lama untuk mengirit pengeluaran. Kondisi serba kekurangan itulah yang membuat masyarakat desa menjadi kekurangan gizi termasuk kekurangan zat yodium sehingga menyebabkan penyakit down syndrome atau keterbelakangan mental muncul.

Melihat hal tersebut sejak kecil, Eko Mulyadi berkeinginan untuk membantu warga Desa Karangpatihan agar mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak bergantung pada orang lain. Sekitar tahun 2009 dan 2010 Eko bersama masyarakat sepakat untuk membentuk kelompok masyarakat (pokmas) yang diberi nama Karangpatihanan Bangkit. Dengan pokmas tersebut, Eko memiliki ide untuk mengikut sertakan warga tunagrahita di desanya untuk turut serta dalam program pemerintahan yang bernama Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).

Setelah program PNPM selesai Eko kembali mengajukan proposal program pemberdayaan masyarakat dalam bentuk lain dan akhirnya mendapat bantuan dari program CSR Bank Indonesia cabang Kediri, yang awalnya Bank Indonesia hanya memberi dana awal 3 juta rupiah, hingga ditambah lagi sebesar 25 juta rupiah. Dengan uang bantuan tersebut pokmas menggunakannya sebagai modal untuk mendirikan kolam-kolam lele di depan rumah penderita tunagrahita.

Keuntungan dari hasil panen lele yang berkisar Rp.150.000,- hingga Rp.250.000,- pertiga bulan untuk  setiap warga masih membuat Eko belum cukup puas. Eko dan pokmas memutuskan untuk mengembangkan kegiatannya dengan beternak kambing dan ayam, dengan harapan warga bisa semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Stereotip bahwa penderita down syndrome hanya bisa bergantung kepada orang lain perlahan memudar, karena masyarakat umum yang bukan keluarga tunagrahita juga ikut dalam usaha ternak lele pokmas Karangpatihanan.

Salah satu bukti apresiasi dan kepercayaan masyarakat pada Eko adalah dengan terpilihnya Eko sebagai kepala desa. Eko berpendapat bahwa, jika negara belum mampu memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar, maka masyarakat umum bisa melakukannya sehingga kemiskinan di Indonesia bisa berkurang.