Dunia komunikasi saat ini bergerak dinamis dan harus mengikuti apa yang disebut dengan “Apa Kehendak Rakyat” :).

Komunikasi saat ini tunduk pada hukum dinamika publik. Tak bisa lagi yang berkuasa (baca : penguasa media) menentukan opini publik. Paling tidak opini publik tak lagi begitu mudah dikendalikan oleh mesin uang melalui pembelian space-space media.

KEKUATAN SUARA PUBLIK

Era partisipasi di ranah media telah menjadi fakta di Indonesia.

Suara publik adalah pemenang.
Suara publik adalah penentu.
Suara publik adalah tak bisa dielakkan.

Lalu bagaimana kita menyikapi fakta ini? Bagaimana kita belajar dari trend masyarakat kontemporer di lingkungan kita ini? Bagi saya banyak yang bisa dipetik gambar besarnya.

Walaupun di ranah politik, Pasangan Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta adalah BRAND. Dan kampanye CaPres ini walaupun di ranah politik tetaplah dunia komunikasi kontemporer yang bersifat universal. Bagi BRAND ini adalah pembelajaran :

1. Pemegang uang besar yang mampu menguasai banyak media/channel ternyata tak otomatis mudah mengendalikan opini.

2. Fenomena berkomunikasi tanpa biaya semakin kuat dan nyata terjadi. Saya sangat percaya istilah RETURN OF COMMUNITIES (RoC) dibandingkan RETURN OF INVESTMENT (RoI). Membangun kekuatan komunitas atau mengelola komunitas dengan benar dan jujur menjadi sangat penting.

3. Segala bentuk KREATIVITAS yang muncul dari PUBLIC PARTICIPATION sangat positif membantu membangun BRAND dan lebih dari itu akan membangkitkan FANS yang kuat.

4. Kekuatan Word Of Mouth atau pesan yang sifatnya Buzz yang shareable akan menjadi kunci sukses komunikasi era sekarang. Saya masih percaya bahwa POSITIVE word of mouth akan lebih kuat menentukan dibanding NEGATIVE word of mouth.

Fenomena pertarungan CaPres ini sekali lagi bisa menjadi pembelajaran berharga bagi dunia komunikasi di Indonesia. Setuju? Paling tidak daripada panas-panasan kita belajar sesuatu:).