“Momentum is really about how you build on phenomenon and keep it moving forward”.
Warren Berger – Hoopla

Berdiskusi dengan teman-teman di @alun-alun_ dengan tajuk Art, Brand & Heart sangat berfaedah buat olah pikir, minimal buat saya pribadi. Beberapa hal yang bisa saya catat dan sayang jika tak menjadi catatan saya. Minimal tulisan ini saya buat untuk tujuan itu. Peristiwa atau event yang memiliki kekuatan daya ingat positif.

Berdiskusi tentang Brand saat ini tak terlepas dengan Heart atau dengan istilah popular Shared Value. Bahwa Brand harus lekat di hati dan memiliki hati. Harus diakui kita (bangsa Indonesia) menjadi bangsa yang sangat terjajah dalam hal branding. Kita dikepung oleh brand asing. Saya tak akan menyalahkan brand asing atau anti asing. yang terjadi ahli-ahli brand kita atau pelaku brand kita memang tak mampu berbuat banyak. Ini kenyataan.

Salah satu yang saya catat bahwa membangun Brand saat ini diperlukan sebuah skenario yang menjadi sebuah protokol atau platform yang kuat dan sustain sifatnya.

Apakah yang dimaksud dengan protokol atau platform itu? Tentu masing-masing pemilik Brand harus mampu menuliskan CODE yang menjadi protokol/platform yang unik dan otentik. Era start-up saat ini menjadikan peluang begitu terbuka bagi siapapun dan dimanapun di muka planet ini. Menulis protokol menjadi keharusan bagi Brand yang kuat dan valuable.

Seperti saya sebut, brand baru @Airbnb atau @bluebottle @toms @deus berhasil menuliskan CODE atau protokol atau platform secara otentik dan disiplin.

Bagi saya 3C – Concern + Collaboration + Commerce adalah basis dari platform secara general jika Heart menjadi bagian utama dari sebuah Brand. Hal ini tak bisa dielakkan di era yang sangat terbuka dan demokratis saat ini. Brand berkembang tak lagi bisa meniadakan ekosistemnya.

Satu hal yang mengganggu benak saya adalah : What Next?
Setelah kita memiliki 3C lalu apa yang mesti kita pertimbangkan?

M O M E N T U M !
Karena membangun Brand saat ini adalah membangun konektivitas. Karena membangun Brand saat ini membangun makna. Momentum menjadi titik krusial. Momentum lebih penting dibanding sebuah awareness.

Perhatikan sebuah momentum, dan bangunlah sebuah momentum bukan sekedar awareness. Tentu saja momentum yang lahir secara otentik dan honest. Saya jadi teringat kata-kata kang Ayip Bali jadikan Entry Point > Turning Point!