Memperhatikan fenomena Sacha Stevenson, cewek bule fasih berbahasa Indonesia yang membuat beberapa materi kocak melalui youtube seperti membukakan mata kita tentang semakin kuatnya partisipasi CROWD sebagai publisher.

Sacha Stevenson membuat seri video di youtube dengan kocak, menghibur sekaligus mind opener. Bercerita tentang habit orang Indonesia yang setelah dipikir-pikir memang lucu. Lain lagi seri video yang diproduksi @edwardsuhadi yang juga seorang photographer profesional. Edward secara inisiatif membuat seri video bertajuk 60detik.com dengan sederetan ambasador yang banyak ditonton publik.

Saya tidak berbicara aspek politik tapi lebih melihat sebagai fenomena menarik partisipasi publik dalam membuat konten. Peran siapapun mereka sebagai PUBLISHER seperti menjadi tanda bahwa peluang besar menciptakan media bukan memakai media yang ada.

Terbuka peluang yang sangat besar bagi siapapun untuk membuat konten (Content Creator). Dari konten yang sangat sepele, menghibur sampai yang sangat serius. Teman saya dari Cameo Production membuat materi humor yang membuat terpingkal-pingkal sampai seorang anak muda menggagas kawalpemilu.com yang sangat serius.

KONTEN YANG MENGHIBUR ATAU KONTEN YANG INFORMATIF?

Sebagai PUBLISHER, pembuat konten harus sadar fungsi apa yang akan didapat oleh crowd begitu exist. Disinilah menariknya peluang yang sangat terbuka sebagai PUBLISHER. Kesadaran membangun dan mengembangkan kebermanfaatan informasi sangat penting di dunia digital ini.

Menjadi pendengar dan pengamat yang baik sangat penting sebagai pembuat konten dan publisher. Mengisi apa yang menjadi kebutuhan publik adalah peluang di dunia konten yang begitu terbuka bagi siapapun.

ADVERTISING atau PUBLISHING?

Apa yang dilakukan Edward Suhadi dalam 60detik.com sangat menarik untuk diamati dan dibahas sesuai porsinya. Sebagai komunikasi yang sangat organik dan otentik. Edward mem-publish seri video melalui youtube dan response penonton cukup besar dan antusias. Ketika kita mem-publish sesuatu yang relevan dengan publik ternyata tidak harus melalui saluran advertising yang selama ini ada dan formal. Paling tidak ada alternatif cara untuk menyampaikan pesan secara lebih murah dan efektif. Cara ini menjadi efektif jika disertai kejelian dan unik.

BELI MEDIA ATAU MENJADI MEDIA?

Content Marketing membuka peluang siapapun bisa menjadi media. Saya masih ingat www.sfgirlbybay.com sebuah konten desain dan interior yang cukup “nyentrik”. Sebuah konten unik yang akhirnya menjadi media yang sangat kuat karakternya. Di Indonesia mulai terlihat banyak konten yang menarik. Salah satunya : Tulisan CHRONICLES, sebuah blog menarik tentang desain dan kultural. Saya yakin konten seperti ini jika dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan karena selain memiliki crowd juga terbangun kredibilitasnya.

Pembelajarannya adalah apakah kita akan membeli media atau kita berinvestasi untuk membuat media dengan cara menciptakan Content Marketing. Yang jelas saat ini Content Marketing tak lagi nice-to-have tapi It’s must-have.

PARTICIPATE OR DIE?

Marzuki KilltheDJ, Raditya Dika, kawalpemilu.org, 60detik.com adalah bentuk inisiatif dan partisipasi yang dikalkulasi dengan baik. Kita tidak bisa memetik hasil tanpa berpartisipasi terlebih dahulu. Berkarya dahulu baru menghasilkan; bahkan ini terjadi bagi figur-figur orang atau brand yang sudah mapan dan punya nama.

Apakah kita akan tetap menunggu dan menunggu…